Senin, 22 Mei 2017

Jogja Rasa Kefa: Mahasiswa Anti Mainstream



Tiba-tiba kata “mainstream” populer. Beberapa waktu lalu, saya sering membaca kata “mainstream” di status-status facebook. Misalnya ada teman yang menulis pada status facebooknya demikian; “Kak, cinta kita terlalu mainstream.” Teman lain lagi menulis; “Sayang, pelukanmu terlalu mainstream.”

Memang, beberapa waktu lalu, kata “mainstream” menjadi populer, khususnya di kalangan kaum muda. Kata “mainstreaam” tidak hanya dituliskan pada status-status facebook, tetapi diucapkan secara spontan juga, misalnya “Ah, itu terlalu mainstream. Itu tidak menantang, cari hal baru yang lebih menantang.” “Ai...lu terlalu mainstream.” “Eh, malas. Itu terlalu mainstream.

Membaca dan mendengar kata “mainstream” itu, saya berusaha mencari arti kata tersebut. Ternyata, kata “mainstream” berasal dari kata bahasa Inggris, yang terdiri dari dua kata, yakni, main yang berarti utama dan stream yang berarti arus. Jadi kata mainstream bisa berarti arus utama, ‘ikut arus’, ‘ikut-ikutan’, meniru yang sudah ada, mengikuti kebiasaan pada umumnya.

Seminggu yang lalu, saya mendengar kata “mainstream” lagi. Dalam rapat panitia MAKRAB dan Pergantian Kepengursan IKTTU Yogyakarta, pada pembahasan tema kegiatan, ada yang mengusulkan tema yang sama dengan tema tahun sebelumnya. Tema tahun-tahun sebelumnya menggunakan bahasa Dawan dan berkisar antara “Nekaf Mese, Ansaof Mese-Sehati sepikiran atau satu hati satu rasa.” Tiba-tiba ada suara gerutuh, “ai...terlalu mainstream. Cari yang lain.”

Spontan seorang teman dalam rapat itu mengusulkan tema lain; “Jogja Rasa Kefa”. Hampir semua teman dalam acara rapat itu melihatnya dan tersenyum, bahkan menertawakan tema itu. Memang, tema “Jogja Rasa Kefa” kedengaran terlalu profan, terlalu romol, bahkan terdengar fanatik. Akhirnya semua sepakat menggunakan tema tahun-tahun sebelumnya, yakni “Nekaf Mese Ansaof Mese- Sehati sepikiran atau satu hati satu rasa.”

Dua hari menjelang hari H, seksi dekorasi mendesain tema yang telah disepati tersebut. Saat mendesain tema untuk dicetak, seksi dekorasi masih sempat-sempat 'menyesal', katanya, “Iiii, coba itu hari kita sepakat tema ‘Jogja Rasa Kefa’ pasti lebih keren.” Tanpa pikir panjang, saya mengatakan “Pake tema ‘Jogja Rasa Kefa’ sudah.” “Nanti orang tanya, kita jawab bilang apa?”tanya si seksi dekorasi tersebut. “Bilang saja, Jogja Rasa Kefa itu artinya, kita yang berasal dari Kefa dan sedang kuliah di Jogja, diharapkan tetap menjaga tradisi atau kebiasaan-kebiasaan baik dari daerah kita, misalnya duduk bersama untuk selesaikan masalah, makan bersama, gotong-royong, berbahasa Dawan pada saat yang tepat dan sebagainya.”

Jadilah, tema acara MAKRAB dan Pergantian Kepengurusan IKTTU Yogyakarta tahun 2017 di Pantai Depok adalah “Jogja Rasa Kefa.” Tidak hanya itu. Panitia acara MAKRAB dan Pergantian Kepengurusan IKTTU Yogyakarta tahun 2017 juga membuat acara-acara yang 'agak' berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ada acara diskusi ilmiah dengan tema "Etika Lingkungan." Acara diskusi ini berlangsung selama 45 menit dengan suasana diskusi yang ramai. Lain lagi, supaya tidak terkesan 'mainstream' tadi, dalam proses memilih pengurus yang baru, tidak dilakukan dengan cara menunjuk atau memilih orang, tetapi menawarkan. Misalnya, panitia menawarkan demikian, "Siapa yang bersedia dan berani menjadi wakil ketua, langsung angkat tangan dan maju ke depan." "Siapa yang berani dan bersedia jadi bendahara, tolong angkat tangan dan maju ke depan."


Share:
Posting Komentar