Kamis, 11 Mei 2017

Ahok dan Imagine

Foto :http://foto.viva.co.id/read/18364-ahok-tiba-di-rutan-cipinang

Ahok. Malam kedua. Di atas tempat tidur yang sempit, duduk memeluk kedua lututnya; menghadap ke utara. Pikiran membentur tembok, rindu tertambat di jeruji-jeruji besi. Di kamar sesempit itu, dia baru rasa. Baru terasa. Itu penjara, penjara sesungguhnya; sekalipun kalau memang hanya untuk raga.

Menyesal. Manusia biasanya menyesal, sekalipun seorang Ahok. Betul, harus dua tahun di penjara; di LP Cipinang dengan pengamanan tingkat atas. Para sipir berjaga dua puluh empat jam; pentungan di tangan kanan atau pistol di pinggang kiri. Barangkali ada rasa takut, memang manusia punya rasa takut. Seperti ceritera menit-menit terakhir Che Guevara di hadapan Mario Teran; akan dibentak atau ditembak; dihibur atau dicibir.

Aduhai, kamar yang sempit. Batas loteng kamar yang hanya sepenggal pandang itulah kawan ceritera sebelum benar-benar lelap tertidur. Seandainya Ahok tak pernah bicara beberapa kalimat itu di hadapan warga Kepulauan Seribu, tentu dia sedang bernyanyi-nyanyi kecil bersama anak-isterinya di rumah sendiri. Itu ‘seandainya’. Seandainya hakim memvonisnya bebas. Itu ‘seandainya’.

Ahok sedang di dalam penjara. Itu betul, di ruangan sempit itu, sebagai manusia, sempat-sempat dia tentu menyesal. Barangkali dia menyesali kesalahan, barangkali dia menyesali kebenaran. Entah hal mana yang mengantarnya ke sana; kesalahan atau kebenaran itu tadi. Masih sama tadi, masih ada ‘seandainya’. Seandainya tak ada Buni Yani. Seandainya tak ada rekaman. Seandainya tak ada ilmu tafsir.

Betul, Ahok sudah di dalam penjara, di dalam sebuah kamar yang sempit. Di luar sini, di luar penjaranya Ahok, hati orang-orangnya menyala membara, marah, menyesal, menangis. Orang-orang lain lagi tertawa, menang, tenang. Tak tahu, ke mana arah perahu. Kita berandai-andai, seperti John Lennon dalam Imagine, jauh-jauh hari dia sudah ingin hidup hanya dalam bayangan; andaikan ini, andaikan itu. “Imagine there’s no heaven-bayangkan (jika) tak surga.” Imagine there’s no countries-bayangkan (jika) tak ada negara.” “Imagine no possessions-bayangkan jika tak ada barang.”

Untuk Ahok ini, bayangkan jika tak ada hukum. Bayangkan jika hukum benar-benar adil.

Sekiranya membayangkan Ahok ini, kita membayangkan juga Indonesia.
Share:
Posting Komentar