Selasa, 18 April 2017

Tega

Foto: Koleksi pribadi.
Bulan November 2016, saya mengantar seorang saudara saya dari Bali ke Jakarta untuk selanjutnya pergi mengikuti istrinya di Belanda. Ketika berangkat dari Bali, saya membawa semua pakaian saya. Saya memang sedang berpikir, mencari-cari jalan, hendak berlabuh di mana lagi. Beberapa bulan berada di Bali, saya memang sama sekali tidak (bisa) menulis. Entahlah, saya lebih banyak pancing ikan daripada menulis.

“Nanti mau ke mana ini? Saya belikan tiket pulang ke Bali, ke Kupang atau mau cari kerja di Jakarta sini?”saudara saya itu bertanya ketika kami tiba di hotel. “Yang penting kau selamat sampai di Belanda. Jangan pikirkan saya, saya ini aman. Jawa ini tanah air saya,”begitulah saya menjawabnya setengah bercanda agar menghindari rasa sedih. Saya memang merasa sedih, karena kemungkinan besar saudara saya itu akan tinggal tetap bersama istrinya di Belanda.

Kami memilih menginap dua malam di hotel, selain karena dekat bandara, kami juga tidak merepotkan saudara-saudara di Jakarta. Biaya hotel untuk dua malam itu sekitar Rp. 500.000.

Jam 10 malam, kami keluar dari hotel dan pergi bandara, sebab tiket ke Belanda itu jam 12 malam. Ketika keluar dari hotel, saya sudah mulai merasa sedih, tetap saya berusaha tegar. Dia memang harus pergi ke Belanda, sebab istrinya sudah menunggu di sana. Sebagai saudara, saya tidak bisa melarangnya. Dia lebih penting untuk istrinya daripada untuk saya dan saudara-saudara lainnya.
Sesampai di Bandara, dia melakukan check-in lalu keluar lagi. Kamu berdua mencari tempat makan sambil menunggu jam berangkatnya. Kami makan di sebuah warung makan di wilayah bandara itu. Warung makan yang elite dan ada kesan kebarat-baratan; mirip-mirip KFC, Mcdonal dan lain-lain.

Dia memesan menu makan yang sama. Saya memang biasanya ikut saja kalau masuk ke rumah makan-rumah makan elite. Menu makan itu entah bernama apa, saya lupa sebab namanya dalam bahasa Inggris. Makanan yang kami dapat adalah segumpal nasi putih, sepiring daun ubi (kuah) dan dua potong tahu rebus.

Sehabis makan, saya dan dia pergi ke kasir untuk membayar. Saya kaget ketika kasir, si wanita cantik itu menyebut harga yang harus kami bayar. Harga makanan untuk menu dua porsi itu adalah Rp. 169.000. Mama mia.

Saudara saya menyerahkan jumlah uang tersebut lalu berjalan keluar (barangkali dia sudah terbiasa dengan hal itu). Saya yang agak kampungan ini malah tetap berdiri di depan kasir itu. Saya tidak puas, heran dan marah. Saya menerima kertas berisi harga dua porsi makanan itu, mengerutkan dahi sambil bertanya ulang kepada si kasir itu.

“Mbak, tidak keliru hitung ya?”

“Tidak, pak. Kenapa?”

“Kok mahal sekali?”

“Iya, pak. Harganya memang begitu.”

“Kamu ini tega sekali, ya. Tega sekali kamu jual nasi satu gumpal dan daun ubi beberapa potong dengan ratusan ribu.”

Cukup. Impas. Biar bayar mahal, yang penting saya sudah kotbah dia.

Share:
Posting Komentar