Rabu, 19 April 2017

Saatnya Menentukan Pilihan

Foto: Koleksi Perkumpulan Lopo BIINMAFO

(Catatan Singkat Hasil Diskusi Perkumpulan Lopo BIINMAFO-Menjelang PILEG 2014)

Partisipasi masyarakat untuk memilih secara cerdas wakil rakyatnya merupakan bentuk partisipasi pembangunan nasional. Pemilih yang cerdas tentunya memilih calon wakil rakyat yang berkualitas. Calon wakil rakyat yang berkualitas adalah sosok yang secara utuh memperjuangkan aspirasi rakyat.

Setidaknya itulah kesimpulan atau rangkuman hasil diskusi yang digelar perkumpulan Lopo BIINMAFO di teras aula Biinmafo (5/4). Diskusi dengan tema besar “Saatnya Menentukan Pilihan” tersebut, berlangsung dalam suasana santai. Robby Saunoah yang bersedia menggantikan kedua pemateri yang berhalangan hadir, memaparkan sebuah wacana seputar alasan mengapa rakyat harus memilih. Bahwa pemilu sarat kepentingan. Kepentingan itulah yang mendorong seseorang untuk menjadi calon wakil rakyat. Kepentingan itu juga yang mendorong masyarakat pemilih untuk mencoblos pada ( 9 April 2014) nanti. Kepentingan itulah yang mendorong seseorang untuk tidak GOLPUT (golongan putih). Dari semua kepentingan berbagai unsur tersebut, diharapkan memuncak pada satu cita-cita besar bangsa ini yakni “Negara yang adil-makmur dan rakyat yang sejahtera”.

Selain wacana besar tersebut di atas, Robby Saunoah, mengajak para peserta diskusi untuk melihat motivasi para calon wakil rakyat dan masyarakat pemilih di wilayah daratan Timor umumnya dan khususnya kabupaten TTU. Bahwa kecerdasan masyarakat pemilih akan menghasilkan wakil pilihan rakyat yang berkualitas di Timor, khususnya kabupaten TTU. Wakil pilihan rakyat yang berkualitas tersebut diharapkan membangun sebuah mata rantai kekompakan turun-temurun untuk membangun Timor, khususnya kabupaten TTU.

Freddy Oki menanggapi wacana besar tersebut dengan sebuah asumsi, bahwa calon wakil rakyat yang berkualitas adalah orang-orang yang sudah ‘lolos seleksi’. Freddy membandingkan gampangnya menjadi calon wakil rakyat (caleg) dengan rumitnya lolos tes CPNS atau ketatnya seleksi untuk menjadi polisi. Benar bahwa setiap orang berhak berpartisipasi dalam pembangunan (baca: politik), tetapi mengapa para calon wakil rakyat (caleg) tidak melalui tahap seleksi ketat? Bukankan para calon wakil rakyat tersebut yang akan menjadi pemegang kunci (perancang) pembangunan? Bung, malah seleksi penyanyi dangdut lebih ketat hehehhe!

Zul, peserta lain malah melihat kalahnya perwakilan dari Timor, khususnya kabupaten TTU di tingkat pusat. Zul mengatakan bahwa mengapa tidak lebih banyak lagi masyarakat dari kabupaten TTU yang ‘bersaing’ di DPR pusat? Dengan tidak adanya ‘orang’ di pusat, maka dengan sendirinya akan terjadi kesenjangan dalam sistem perencanaan pembangunan. Ditengarai bahwa hanya 3 orang dari kabupaten TTU yang ikut ‘bersaing’ di pusat. Kalau tidak ada ‘orang dalam’ di pusat, janganlah banyak bermimpi. Cara menghindari mimpi adalah, jangan tidur hehehhe

Robby Saunoah lagi-lagi melihat kehadiran orang Timor, khususnya kabupaten TTU di pusat sebagai sebuah kebutuhan. Bahwa keberadaan ‘orang’ Timor, khususnya warga kabupaten TTU di pusat adalah salah satu kunci dalam pembangunan. Selain itu, keberadaan orang Timor, khususnya TTU di pusat diharapkan menjadi pemegang tongkat estafet yang akan diberikan (lagi) kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, akan terbentuklah sebuah tim yang solid dalam rencana pembangunan di Timor, khususnya TTU. Kalau tidak solid, berarti sulit hehehe.

Fyan W. Doi justeru melihat sistem yang salah sebagai sebuah halangan. Sistem kepartaian yang diusung malah terkesan salah kaprah. Pribadi-pribadi yang bergabung dalam sebuah partai politik justeru membangun ‘gubuk’ masing-masing yang jauh dari visi-misi partai politik. Mestinya pribadi-pribadi yang bergabung dalam partai politik, menyesuaikan diri dengan visi-misi partai politik tersebut sehingga kemudian kepentingannya dapat diakomodir. Kesalahan para calon wakil rakyat dalam memilih (bergabung) dengan partai politik tertentu juga berakibat pada dillema politik dan akhirnya ‘kalah’ saja. Partai besar lebih menguasai dan dengan mudah mengabaikan suara partai-partai kecil. Sapi lebih besar daripada ayam, boss. Hehehe.

Remmy Ua mengakui kelemahan strategi dari beberapa calon wakil rakyat, khususnya yang bersaing di pusat. Para calon wakil rakyat seperti cendawan di musim hujan, yang muncul tiba-tiba dan melelang kualitasnya untuk dipilih masyarakat. Lucunya, masyarakat seperti sedang menonton pantomim atau lebih lucunya lagi seperti cerita ‘suara dari padang gurun’. Ada suara tetapi orangnya tidak kelihatan. Belum lagi orang-orang pintar di Timor ini menciptakan apa yang disebut gap. Dalam pemilihan RT saja, selalu ada gap kuning dan gap putih. Contohnya, agama, bahkan iman yang suci dipertaruhkankan sebagai ‘jualan’ yang laris dan murah-meriah. Nanti butuh suara rakyat baru mulai datang mendekat e, hehehhe!

Freddy D’blues memaparkan dua jenis jualan yang ada dalam setiap pemilu, yakni pertama, ‘jualan’ sosioligis dengan asumsi, akan laku apabila rajin sosialisasikan diri kepada masyarakat dengan modal (rajin menghadiri acara-acara adat, rajin melayat ke tempat duka, rajin membeli sirih-pinang, tembakau, laru putih, sopi kepala dan rajin menyebarkan SMS. Kedua, ‘jualan’ ideologis yang mana, seseorang menawarkan diri dengan modal ide-ide pembangunan secara ilmiah, seperti diskusi-diksusi ilmiah, penelitian, tulisan-tulisan kritis di media dan sebagainya). Celakanya sekarang, ‘jaulan’ sosiologis lebih marak. Fenomena ini juga bisa disebut pembodohan politik. Maka lahirlah istilah “meto makan kase.

Hasil dari kesalahan penerapan dua jenis ‘jualan’ tadi, menghadirkan anggota DPR (DPRD) yang bingung (baca: dillema). Fyan, mengatakan bahwa aspirasi yang diperjuangkan para wakil rakyat adalah sebuah kekaburan. Pertanyaan adalah aspirasi apa yang diperjuangkan para wakil rakyat tersebut? Apakah setiap calon wakil rakyat sekarang mengetahui masalah-masalah dari daerah pemilihannya? Di mana gerangan ketika MUSRENBANG desa diadakan? Bukankan MUSRENBANG desa merupakan cikal-bakal perencanaan pembangunan? Aspirasi rakyat yang terbilang ‘sakral’ itu juga ditentukan dengan cara undi (votting) yang di dalamnya kerap atau biasa terjadi saling tos. Idealisme sungguh adalah ‘tabungan berlumut’ yang tersembunyi, yang nampak ‘basah’ itu adalah kepentingan politik yang tidak berpihak. Temanku bilang, kemungkinan besar, para calon wakil rakyat (caleg), tidak mampu menggambar peta sosial/wilayah salah satu daerah pemilihannya. Apalagi harus menempatkan potensi dan masalah.

Oleh karena itu, inilah saatnya masyarakat yang cerdas, memilih wakil rakyat yang berkualitas. Datang dan tentukanlah pilihanmu pada 9 April 2014 nanti. Pilihlah calon wakil rakyat yang berkualitas agar dapat memperjuangkan aspirasimu. Selamat memilih!

Share:
Posting Komentar