Sabtu, 01 April 2017

Politik dan WC : Catatan Ringan di Warung Kopi Pojokan 63 Kenari

Foto:Koleksi pribadi.

Seperti biasa, setiap subuh, orang-orang bergerak melawan dingin untuk ‘mencari hidup’. Tukang ojek membuang mata ke segala arah. Penjual kue berteriak sentak-sentak. Penjual sayur dengan lalepak di bahu dan baskom-baskom di kepala; logat So’e dan logat Kefamenanu. Pekerja kantoran; rambut berminyak atau kusam di atas mobil dan sepeda motor. Para maling babi yang gagal hingga kesiangan sengaja berjalan-jalan, seolah pulang dari tempat kerja. Yang pemabuk atau kebetulan mabuk semalam di rumah teman, teler mengayun langkah perlahan-lahan pulang pada isteri-anak. Enak.

Manusia memang harus melawan dingin untuk ‘mencari hidup’ atau ‘menyambung hidup’. Ada pertanyaan konyol; hidup untuk makan atau makan untuk hidup? Jawabannya tentu tergantung konteks. Lain lagi; jangan asal makan, nanti sakit perut. Makanan yang bergizi membuat tubuh sehat. Ini berlaku untuk sebagian orang; sebab yang selalu berkekurangan tentunya makan hanya untuk bertahan hidup. Gizi itu urutan buntut. Bersyukurlah, istilah gizi buruk bisa ‘haluskan’ menjadi ‘kurang gizi atau gizi kurang’. Itu tadi sekedar tentang makan.

Tentang WC, hampir sama juga. Setiap pagi hingga malam, rutinitas WC tentu jadwal alamiah. Harus. Orang-orang kesehatan bilang, jangan ‘menahan WC’ nanti sakit. Artinya, kalau ada tuntutan untuk pergi ke WC, pergilah dengan kesadaran penuh; duduk atau berdiri itu rahasia. Bagi sebagian orang bahkan pada umumnya, aktivitas pertama dalam hari baru adalah menuju WC; keluarkan dan mencuci yang sudah mengendap. Enak juga.

Makan dan WC tentu saling bergandengan tangan melindungi manusia. Makan dan hiduplah kau. Pergilah ke WC dan kau akan tetap umur panjang. Makanya jangan heran, setiap warung makan elite tentu memiliki WC. Pesannya sama; harus makan dan harus buang atau harus buang lalu harus makan. Bohong kalau kedua aktivitas ini terlewati dalam tenggang waktu yang cukup lama. Sebab, tidak makan, manusia akan mati dan tidak pergi ke WC, manusia akan mati juga.

Apapun itu, perut tidak harus ‘keroncong’, sebab ini bicara tentang tentang ‘memasukan dan mengeluarkan’. Bung, bicara perut itu ceritera tentang hidup dan mati, bukan dosa dan kesucian. Artinya, apapun pekerjaanmu, lebih banyak untuk mencari makan lalu harus pergi ke WC. Ini tuntutan, bukan pilihan. Pemeran dalam film Kera Sakti atau Wiro Sableng 212, tentu harus makan, sekalipun mereka harus ‘menipu’ tentang terbang-terbang dalam film-film.

Dalam setiap kesempatan ‘minum kopi’ bersama siapa saja, saya berusaha merekam beberapa joke tentang hidup; tentang ‘memasukan dan mengeluarkan’ tadi. Memang benar, hidup itu lucu. Mungkin sampai pada tahap bosan atau resah, orang-orang akhirnya berefleksi dan menemukan joke ini: “Tiap hari kita lari naik-turun keliling hingga berkeringat hanya untuk (nanti) penuhi panggilan lobang WC”. Artinya, kita susah-payah kerja hanya untuk makan dan ‘pergi’ ke WC. Kalau ini dianggap kewajiban, akan berlebihan; anggap saja ini alamiah. Hukum alam. Kalau tentang hidup jiwa, perdebatannya tentu panjang.

Pagi ini saya terkesan dan memilih mengutip pandangan mantan bupati Manggarai dua periode 1989-1999, Drs. Gaspar Parang Ehok MRP (Warta Flobamora edisi XIX Juni 2014). Ditanya mengenai rahasia umur panjang, dengan entengnya beliau mengatakan: “Rahasia umur panjang adalah waktu pensiun tidak takut dikejar polisi atau jaksa. Karena kalau dikejar polisi atau jaksa, maka energi dan pikiran akan terkuras, lantas segala penyakit akan datang”. Pernyataan Parang Ehok ini secara eksplisit menuduh ‘makan dan WC’ yang ‘sehat’ sebagai penunjang umur panjang.

Makan seperlunya dari keringatmu dan buang semestinya dari yang menumpuk, lalu kau akan umur panjang. Dalam politik, ‘orang-orang sakit’ mestinya akumulasi dari ‘makan sembarang dan menumpuk berlebihan’.

Share:
Posting Komentar