Selasa, 04 April 2017

Pengaruh Media Massa Terhadap Dinamika Politik Lokal

Foto: Lopo BIINMAFO

Barang siapa pandai menggelabuhi massa, ia akan menguasainya, tetapi barang siapa yang mencoba-coba mendidik massa, ia akan menjadi korbannya yang pertama” (Gustave Le Bon).

Para pemikir dan perancang media massa yang kerap di-cap ‘gila’ oleh sebagian orang, kini patut dicatat namanya pada prasasti tak layu dan usang. Sebut saja Johannes Gutenberg, seorang penemu Jerman, menciptakan mesin cetak untuk pertama kalinya pada 1440. Johann Carolus pada 1605 menerbitkan koran pertama di Jerman. Edward Cave, menerbitkan Majalah pertama “The Gentleman’s Magazine” di London pada 1731. James Clerk Maxwell, menyatakan pertama kali adanya gelombang radio pada 1860 dan Heinrich Rudolph Hertz menunjukkan bahwa arus listrik bisa diproyeksikan ke udara sebagai gelombang radio. Sinyal radio pertama yang dikirimkan dan ditangkap dipancarkan pertama kali oleh penemu Italia, Guglielmo Marconi, pada 1895. Pada 7 September 1927, Philo Farnsworth mendemonstrasikan televisi pertama menggunakan teknologi tabung pembesar. Internet ditengarai ditemukan pertama kali oleh militer AS yang setelah meluncurkan Sputnik, menciptakan Advanced Research Projects Agency (ARPA), yang mengembangkan world wide web dan pertama kali diluncurkan dari UCLA pada 29 Oktober 1969.

Hasil penemuan alat-alat komunikasi tersebut di atas, sekaligus mengubah metode komunikasi manusia dan mengalami perkembangan pesat. Penggunaan alat atau media dalam komunikasi manusia dinamakan komunikasi media massa/ komunikasi massa. Komunikasi massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakan alat-alat mekanik, yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi. Di Amerika Serikat, komunikasi massa sebagai ilmu baru lahir pada tahun 1940-an. Di Indonesia, media massa ini dipelajari di perguruan tinggi sekitar tahun 1950-an.

Komunikasi massa diadopsi dari Bahasa Inggris, mass communications, kependekan dari mass media commuication (komunikasi media massa). Artinya, komunikasi yang menggunakan media massa atau ‘mass mediated”. Jadi komunikasi massa dapat diartikan sebagai jenis komunikasi yang menggunakan media massa dalam menyampaikan pesan-pesan.

Istilah mass communications atau communications diartikan sebagai salurannya, yaitu mass media (media massa), kependekan dari media of mass communication. Kata massa dalam komunikasi massa dapat diartikan lebih dari sekedar “orang banyak”. Massa lebih mengandung arti meliputi semua orang yang menjadi sasaran alat-alat komunikasi massa atau orang-orang yang pada ujung lain dari saluran. Massa mengandung pengertian orang banyak, tetapi mereka tidak harus berada di suatu lokasi tertentu yang sama. Mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama.

Unsur-unsur komunikasi massa, antara lain : Sumber (Source), Pesan (Massage), Saluran (Channel), Penerima (Receiver) dan Efek (Effect). Harold D. Lasswell mangatakan bahwa untuk memahami komunikasi massa, kita harus mengerti unsur-unsur itu, yang diformulasikan dalam bentuk pertanyaan “who Says What In Which Channel To Whom And With What Effect?” (“Siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dan dengan efek apa?”.)

Sumber (who) dalam komunikasi massa adalah lembaga, organisasi atau orang-orang yang bekerja dengan fasilitas lembaga atau organisasi (institutional person). Yang dimaksud dengan lembaga atau organisasi adalah perusahaan surat kabar, stasiun radio atau televisi, studio film, penerbit buku atau majalah. Sedangkan institutionalized person adalah orang, seperti redaktur surat kabar yang melalui tajuk rencana mengatakan pendapatnya dengan fasilitas lembaga. Oleh karena itu, ia memiliki kelebihan dalam suara atau wibawa dibanding dengan berbicara tanpa fasilitas organisasi. Yang paling penting bukan wartawan, pemain film, penyiar melainkan siapa pemiliknya (the owner) yang membiayani semua hasil tulisan. Fungsi komunikasi massa menurut Harold D. Lasswell, antara lain: pengamatan, menghubungkan bagian-bagian dan penerusan atau warisan kepada generasi berikutnya. Charles R. Wright menambahkan fungsi keempat yaitu entertainment yang merujuk pada kegiatan-kegiatan komunikatif untuk memberikan hiburan tanpa mengharapkan efek-efek tertentu.

Hasil pemikiran dan karya besar para kreator atau penemu media massa, diyakini membangkitkan peradaban manusia. Manusia kemudian dalam situasi dasar atau lalai, ramai-ramai berarak bahkan boleh dikatakatan ‘digiring’ menuju dan sampai pada satu dunia yang disebut “globalisasi”. Dunia masa kini (baca: Globalisasi) hadir dan mematahkan keraguan manusia pada masalah ruang dan waktu. Dunia hanya seluas daun kelor. Istilah klasik ‘jauh di mata....’ kini bisa diperdebatkan.
Globalisasi seperti medan pacu. Siapa cepat, dialah yang menang dan sebaliknya. Siapa yang menguasai informasi, dialah yang menguasai dunia. Dalam hitungan waktu yang sangat singkat, manusia bisa berselancar mengelilingi dunia. Inilah keuntungan manusia dalam komunikasi menggunakan media massa.

Enak memang. Namun, bagaikan makan buah simalakama; kalau dimakan, ayah dibunuh; kalau tidak dimakan, ibu harus tewas. Selain meningkatkan peradaban manusia, kehadiran media massa memiliki kekuatan lain yang kadang dirasa ‘kejam’. Wajah polos media massa sebenarnya menyembunyikan naluri ‘menjajah’. Lihat saja, senyum dan cemberut sebagian manusia di jalan-jalan, terminal bahkan di ranjang, mungkin juga hasil ‘jajahan’ media massa tersebut. Seseorang bisa saja bunuh diri karena merasa ‘kalah trend rambut’, malu mengenakan pakaian bermerk kelas teri, tagihan listrik membengkak, kehabisan ide untuk kaya raya, hingga kalah bersaing di dunia percintaan.

Pengaruh media massa mencakup atau menembus seluruh aspek hidup manusia, tak terkecuali dinamika politik lokal. Terminologi politik lokal mengacu pada kebijakan, situasi serta kondisi wilayah teritorial dalam cakupan yang sempit. Dalam hubungan dengan dinamika politik lokal, boleh dikatakan bahwa media komunikasi massa atau komunikasi massa adalah tameng ‘menjual diri’, ‘alat perang’, ‘liang lahat’ dan sebagainya. Dinamika politik lokal (baca:daerah), terlihat simpang-siur dan membingungkan masyarakat awam. Pemberitaan dalam media massa menjelang Pemilu 2014, terkesan lugu. Yang satunya pencuri, lainnya lagi pahawan. Yang satunya ‘orang suci’, lainnya hamba yang berdosa. Pertanyaannya adalah siapa yang benar dan siapa yang salah?
Harold D. Lasswell tentunya selalu mengajak kita untuk selalu bercermin dari bentuk pertanyaan “who says what in which channel to whom and with what effect?” (“Siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dan dengan efek apa”.)

Oleh Unu Ruben Paineon
Kefamenanu,2014
Share:
Posting Komentar