Selasa, 18 April 2017

Malaikat

Foto: Koleksi pribadi.
Ceritera ini masih ada hubungan dengan fungsi KTP. Ceriteranya begini. Kadang-kadang atau bahkan biasanya saya begadang untuk menulis atau menunggu mood menulis, atau hanya sekedar menonton film. Barangkali karena begadang itu, saya merasa lapar pagi-pagi buta.

Suatu waktu di Waringin-Jogjakarta, sekitar jam tiga pagi, saya merasa sangat lapar. Saya mematikan laptop dan mencoba beruji nasib dengan berjalan-jalan ke warung burjo. Saya ke sana dengan maksud untuk mengutang sepiring makanan dan beberapa batang rokok. Tidak ada uang sama sekali. Modal saya waktu itu hanya satu, Kartu Tanda Penduduk (KTP). KTP akan jadi tumbal lagi.

Warung burjo itu sepi. Hanya ada seorang lelaki asing sedang duduk sambil mengutak-atik handphonenya, sedangkan penjaga warung burjo, si Aa itu duduk sambil menonton televisi. Hati saya legah. Legah karena warungnya sepi. Dalam rasa legah itu, saya langsung memesan sepiring nasi telur dan air hangat, “Aa, nasi telur,”kata saya.

Sambil menunggu si Aa itu menyiapkan nasi telur, saya membaca koran yang ada di atas meja. Ketika saya berbalik ke arah samping kiri, ternyata si lelaki asing itu berusaha tersenyum dengan saya. Tidak hanya tersenyum, si lelaki asing itu menawarkan rokoknya kepada. Saya membalas senyumnya sambil menolak tawaran rokok darinya dengan mimik yang sopan. Mimik saya memang sopan, tetapi hati dan pikiran saya sudah penuh curiga negatif.

Saya memang curiga negatif. Saya curiga bagini; “Jangan-jangan ada narkoba atau obat semacamnya dalam rokok itu.” “Jangan-jangan dia itu orang stress yang mau cari masalah dengan saya.” “Jangan-jangan dia itu pencopet kelas wahid yang sengaja memancing saya dengan menawarkan rokok.” (Kalau memang dia pencopet hebat, berarti dia akan menyesal seumur hidup, sebab tidak ada apa-apa di saku saya, kecuali KTP. Dia copet angin saja).

Memang, saya jarang-jarang menemukan lelaki asing yang menawariku rokok, apalagi penampilan lelaki itu jauh dari lelaki sopan pada umumnya. Saya bahkan mencurigainya sebagai anggota sebuah ormas yang terkenal di Indonesia.

Saya makan. Sehabis makan itulah, rahasia diri saya terbuka di hadapan lelaki asing itu. Saya meminta tiga batang rokok lagi lalu menyerahkan KTP saya sebagai jaminan utang. “Aa, utang dulu ya. Saya titip KTP. Besok baru saya bayar.”

Tiba-tiba lelaki asing yang tadi saya curigai macam-macam itu merogoh sakunya, sambil berkata, “Ambil kembali KTP, bang. Saya bayarkan semuanya. Semua berapa, Aa?” Saya kaget. Saya menolak lagi kebaikan lelaki asing itu. “Tidak apa-apa, mas. Nanti besok baru saya bayar saja. Ini sudah malam, saya tidak bisa ke ATM.” Dia berdiri dan tetap menyodorkan uang untuk membayar utang-utang saya itu.

Saya tetap bertahan dengan pendirian untuk menolak kebaikannya itu. Akhirnya dia diam dan menyimpan kembali uang dan niat baiknya itu.

Saya dan dia duduk dan berceritera beberapa saat; dia banyak bertanya, asal dari mana, kuliah di mana, kerja di mana, kerja apa dan sebagainya. Saya menjelaskan seadanya saja. Lelaki asing itu juga memperkenalkan diri. Namanya Yanto, asalnya dari Riau. Katanya dia seorang advokat atau pembela.

Beberapa saat kemudian, saya pamit dan pulang ke kos. Saya tidur dan baru bangun pada siangnya. Siang itu, ketika bangun dari tidur, seorang teman kos mengantar KTP saya. Katanya lelaki asing bernama Yanto asal Riau itu yang tadi menebus utang-utang saya di warung burjo. Saya pergi dan memastika hal itu di warung burjo. Dan benar, lelaki asing yang saya curigai aneh-aneh itu yang membayar semua utang saya.

Terima kasih, Malaikat.

Share:
Posting Komentar