Sabtu, 01 April 2017

Lelaki Malam (III)

(Sepulang dari mabuk)

Perjumpaan itu entah kebetulan atau takdir, dalam persahabatan hal itu tidak penting untuk diperdebatkan. Kalaupun memang perjumpaan itu kebetulan, siapa yang paling menyangkal kebenaran? Dan kalau memang perjumpaan itu sudahlah takdir, sahabat siapa yang pernah terlebih dahulu menjadi pengecut?

Sudahlah, yang penting bahwa kami pernah bertemu muka dengan muka, lalu masing-masing menepi lagi. Menepi itu entah membenci sepi dalam sunyi atau mencium riuh pada keramaian, kami semata-mata hanya taat pada waktu. Ketaatan pada waktu itulah rindu mengalir sampai meruah.

Senja itu Ako datang dari Jakarta; katanya hanya ingin membaharui ide-ide. Alamak. Mengapa harus Jogjakarta, sedangkan Jakarta itu anjing-anjing jalan yang tak bertuan saja memiliki nama seindah bunga. Aku akui saja alibi lucu itu dalam aturan saling mengerti. Di warung kecil pinggir jalan itu ceritera sepotong-sepotong habis dikunyah bersama kopi jahe dan asap dari batangan rokok Djarum Super.

Berjalanlah aku dan Ako menyusuri jalan sepanjang Paingan hingga Babarsari. Sopir-sopir mobil Kopata atau Kopaja melambai-lambaikan tangan memanggil, sedangkan penggayuh becak menawarkan senyum paling murah. Tak ada yang melucu lebih hebat dari dua kemalangan sahabat yang berenang sempoyongan di negeri tanpa ayah dan ibu. Berjalan kaki masih memiliki seribu alasan logis daripada mengaku kere. Berjalan kaki toh akan tiba tanpa menerima sepotong aib.

Tuhan itu sungguh baik. Dia mengumpulkan yang tercecer dan pada aroma tanah, sekaligus Dia menunjukkan arti sebuah Perjamuan. Anton menapis beras sambil menyanyikan sio mama, Wempi mengiris batangan kangkung tanpa suara. Ferdi dan Ako asik berselancar mengungkit kasak-kusuk negeri antah-berantah. Mimpi kau bila nanti anak-cucu bernyanyi riang sambil menyunyah roti halus dari bahan mentah singkong dan minum susu penuh gisi dari sapi-sapi sehat.***

Share:
Posting Komentar