Sabtu, 01 April 2017

Lelaki Malam (II)


(Sepulang dari mabuk)

Suatu ketika, Wempi, si kurus yang gondrong itu sakit. Namanya juga sakit. Entah penyebabnya apa; kebanyakan hidup di malam hari, kebanyakan merokok, kurang gizi atau semacam. Yang pasti, dia sakit.

Katanya, mulut pahit, segala makanan terasa hambar, badan lemas, dada sesak dan kadang-kadang batuk berdahak. Busyet, penyakit apa itu. Hanya dokter yang bisa menghukumnya.

Wempi semakin lemas. Tidak ada yang lebih menarik dari sepotong kasur tipis, selimut merah belang-belang dan bantal-batal agak kotor. Aku tahu, dalam tidur yang tidak nikmat itu, rindunya pada ibu di rumah lebih memuncak daripada harapan akan perhatian seorang gadis asing yang dipacari. Mama mia, tanah rantau dan sebagian catatannya adalah hukuman dan kutukan, sekalipun perjumpaan-perjumpaan menjanjikan cinta. Toh apa-lah enaknya cinta kalau lagunya adalah janji.

Sekalipun tanah rantauan kadang-kadang adalah hukuman dan kutukan, masih saja seseorang yang katanya dikirim Tuhan untuk menolong. Dan Anton si setia itulah yang bertahan menjaga Wempi di rumah sakit. Anton itu penyayang dan murah hati. Penderitaan teman lelaki-lelaki malam itu, seolah miliknya. Bukan hanya itu, dia penyayang wanita; wanita kulit putih atau kulit hitam, berambut lurus atau keriting, pendiam atau rewel, perawan hingga nenek-nenek. Tidak heran kalau si Anton itu memiliki banyak ‘bapa angkat dan mama angkat’. Katanya begitu, itu ceriteranya sendiri.* * *



Share:
Posting Komentar