Sabtu, 01 April 2017

Lelaki Malam (I)

(Sepulang dari mabuk)

Sudah lama. Waktu itu, kami hanyalah para lelaki malam. Kami lebih banyak bertemu waktu malam; duduk menghabiskan malam, entah tentang apa.

Di Jogjakarta, tentang Kampung Babarsari, ada Anton, si setia yang lebih kuasai lorong-lorong kota Jogjakarta daripada kampung lahirnya sendiri. Rokoknya Djarum Super, sesekali batangan 234. Kelebihannya adalah 'mulut hidup', kawan yang bersamanya tidak akan tersesat, apalagi lapar. Bangun pagi paling cepat itu jam 10 pagi. Ada yang lucunya darinya, rambut dan janggutnya cepat tumbuh, apalagi kalau 'mete'.

Di Kampung Santan, ada lelaki lain bernama Wempi, si kurus dan pendengar yang baik, ceritera apa pun itu, pasti ia dengarkan dengan seksama. Rokoknya kalau di Timor disebut filter, sesekali Djarum Super batangan. Waktu kami masih mahasiswa, dia sudah langganan koran Kompas. Aku ingat warna selimutnya, merah belang-belang. Dia akan berani melawan kantuk kalau bicara tentang politik luar negeri, film-film konspirasi. Dia pengagum wanita, tetapi tidak cepat jatuh cinta.

Lain lagi, namanya Ferdi. Orangnya rapi, teratur dan sulit merubah prinsip yang sudah berakar. Belum pernah terlihat merokok, apalagi harus mabuk alkohol. Dia bertanahan ‘hidup malam’ bersama kami hanya kalau topik pembicaraan saat itu menarik. Banyak informasi yang diperoleh, sayang, dia tidak bisa mengendarai sepeda motor. ***
Share:
Posting Komentar