Selasa, 04 April 2017

Kupang dan Kenangan (Sebuah catatan ringan)

Malam itu, ketika mendapat undangan secara resmi dari panitia Festival Sastra Santarang 02-04 Juni 2015, Kupang terasa sangat dekat. Pada ujung lingkaran meja makan, saya membuka file undangan dan file draf acara lalu membacakannya di hadapan para anggota Lopo BIINMAFO, sambil sesekali menerima dan meneguk minuman beralkohol yang diedarkan ‘bandar’. Enak memang. Aroma persaudaraan sangat terasa di dalam ruang makan sekertariat, seperti harum Tua Nakaf Insana (TNI) terasa di kerongkongan.

Kolom inbox facebook group Lopo BIINMAFO semakin ramai. Para pembina Lopo BIINMAFO yang sibuk dan jauh, beramai-ramai memberikan semacam petuah, “ini kesempatan emas untuk kita, kita harus ikut”, “ikut saja, saya tanggung uang rokok”, “Saya segera merapat ke situ”. Begitulah pesan dari para pembina yang sibuk dan jauh tadi. Enak. Persaudaraan itu enak.

Rapat resmi dimulai. Edaran Tua Nakaf Insana selesai di tangan ‘bandar’. Uang bemo dan uang rokok tidak masalah. Empat salendang disiapkan, batu akik sebagai tanda mata nanti, dijanjikan, puisi-puisi dalam konsep. Tiga orang dari Lopo BIINMAFO siap berangkat ke Kupang.

Kupang dan Kenangan. Benar, ada kenangan. Panitia Festival Sastra Santarang, entah sengaja atau mengalir saja, memberikan sebuah kenangan awal untuk Lopo BIINMAFO. “Di mana? Datang saja ke warung Soto di jalan masuk samping Bank NTT. Kami di sini”. Benar, perjumpaan selalu melahirkan kenangan. “Pesankan makanan, saudara kita ini baru datang dari jauh. Makan dulu. Kami yang bayar....”. Terima kasih, makan kali itu adalah kenangan. Satu kenangan di Kupang.

Orang Timur pada umumnya bangga ketika diterima dengan santun. Satu salendang disematkan di leher sebagai tanda penerimaan dan penghargaan, dua ciuman sebagai tanda perjumaan dalam persaudaraan. Kenangan itu susah terhapus dalam ingatan, sekalipun Parkinson menyerang otak. Sekali lagi, foto bisa pudar, tetapi ingatan tetap menanggung beban kenangan itu. Utang harta dapat dibayar, utang budi dibawa mati. Utang budi ini akan kami berikan kepada orang lain lagi, setidaknya kita memiliki beban yang sama dalam hidup. Bahwa cinta kasih dapat diterima dan diterukan kepada sesama.

“Tidur aman?” “Saudara, tidur sudah kalau sudah lelah” “ambil kasus lagi di bawah” Ada bantal dan selimut” Sesekali saya duduk diam dan mengamati ‘ulah’ para panitia Festival Sastra Santarang yang tak henti-hentinya memberikan perhatian. Merinding. Merasa berhutang budi. Bangga. Itu refleksi. Bahwa hidup bersama itu indah. Saling menanggung beban, beban untuk saling membahagiakan. Terima kasih, dalam tidurpun kita saling mengingat.

“Pake oto mana?” “Masih ada oto lagi”. Sudah makan?” “Makan lagi” “Mari foto bersama”. Sederhana dan lumrah tetapi mendalam. Para sopir selalu setia duduk di atas mobil; mengantar dan menjemput. Pengurus dapur; gadis-gadis bersahaja, cantik dan seksi, tak sedikitpun memisahkan diri. Kami berbaur. Kami bergandengan tangan. Kami bercengkrama, tertawa dan saling menatap penuh cinta. Terima kasih.

Bertemu orang-orang hebat itu rasanya sebuah keberuntungan dalam hidup. Dari negeri jauh, Ayu Utami (Novelis), perempuan itu sepertinya hidup tanpa ‘pagar’. Setiap orang tentu merasa sangat dekat dengannya; berceritera dan foto bersama. Bernyanyi dan makan bersama. AS.Laksana (Cerpenis), diam dan kelihatan banyak merenung, berbicara antara teori dan pengalaman. Mabuk alkohol mungkin hal biasa bagi beberapa seniman. Terserah. Hasif Amini (Redaktur Sastra), tenang dan berwibawa. Sama, bicara hanya teori dan pengalaman.

Komunitas-komunitas budaya dari berbagai sudut NTT dan Bali hadir dengan kekhasan masing-masing memberikan kenangan di Kupang. Kupang dan kenangan adalah kita.

Share:
Posting Komentar