Kamis, 20 April 2017

Kunyadu, Ahok Kalah e

Foto: Koleksi pribadi
Harus diakui bahwa pertandingan leg II Liga Champions Perempat final antara Real Madrid vs Bayern Munchen cukup menegangkan, setidaknya hingga selesai waktu normal. Menegangkan karena hingga usai waktu nomal, agregat gol terhitung sama. Menegangkan juga karena hingga menit terahir waktu normal, kedua tim saling ‘menjual’ serangan untuk mencari tambahan satu gol.

Suasana tegang tidak hanya terlihat di wajah para pemain, pelatih serta penonton di layar televisi. Ketegangan yang paling nampak terlihat di wajah teman-teman sekitar layar televisi. Sungguh mati, tadi malam saya melihat dari dekat wajah tegang para madridista yang duduk bersama saya di depan layar televisi. Para madridista terlihat ‘tahan napas’; wajah tegang, gigit bantal, maki-maki, tangan dingin, kaki gementar hingga dada berbunyi dag...dig...dug.

Ketegangan para madridista mulai berkurang ketika Cristian Ronaldo mencetak gol ketiga. Ketika gol ketiga tercipta, seketika itu juga aksi para madridista berubah; berteriak keras-keras, membuang bantal, memaki-maki kiper Bayern Munchen. Tidak hanya itu, seorang madridista langsung merogoh uang dari sakunya dan membelikan sebungkus rokok. Para madridista terlihat puas, gembira dan barangkali bahagia.

Menyaksikan dua aksi para madridista tersebut, saya akhirnya mengerti. Saya mengerti, bahwa keuntungan utama dari menjadi fans sebuah club sepak bola adalah kepuasan, kesenangan dan barangkali kebahagiaan. Ada orang yang barangkali menambahkan suasana ‘tegang’ sebagai sebuah kenikmatan juga. Misalnya, orang tersebut akan berasumsi demikian; “Saya tegang, maka saya ada”. Terserah, sejauh dapat dipertanggungjawabkan.

Siang ini, ketika bangun tidur, saya teringat bahwa hari ini pemilihan gubernur Jakarta. Yang muncul dalam pikiran dan hati saya adalah niat untuk mendapatkan informasi seputar pemilihan gubernur Jakarta tersebut. Saya memang hanya ingin tahu informasi, siapa yang menang dan siapa yang kalah, tidak sampai tahap ‘tahan napas’, apalagi sampai maki-maki.

Saya membuka facebook. Ada beberapa pesan dalam kotak pesan facebook saya. Salah satu pesan dari seorang saudara saya yang tinggal di Jakarta, bunyinya demikian; “Kunyadu, Ahok Kalah e.” Saya tahu, saudara saya itu tentu sangat menyesal atas kekalahan Ahok itu. Dia tentu menyesal karena saya tahu, dia penggemar berat Ahok. Dalam ceritera-ceritera dan beberapa status facebooknya, dia memang fans berat Ahok. Lain lagi, dari isi pesannya “Kunyadu, Ahok Kalah e”, partikel ‘e’ di akhir kalimat itu, menandakan keluhan mendalam dan seolah meminta saya untuk turut menyesal.

Membaca pesan dari saudara saya itu, saya memang sedikit menyesal-menyesal sedikit. Saya memang ‘sedikit menyesal-menyesal sedikit’, karena sebelumnya saya ‘sedikit mengharapkan’. Ada sedikit harapan agar Ahok menang dalam pemilihan gubernur Jakarta.

Saya memang ‘sedikit mengharapkan’ karena katanya Ahok itu pejabat bersih, sosok pembaharu dan lain-lain. Itu juga ‘katanya’. “Saya juga ‘sedikit mengharapkan’ karena Ahok itu salah satu pejabat beragama Katolik di Jakarta. Tidak ada fanatisme di sini, saya hanya berpikir bahwa semoga Ahok yang seorang Katolik itu diberi kesempatan lagi untuk menunjukan diri sebagai seorang Katolik di Jakarta. Jika saja Ahok menang, saya tentu merasa puas seadanya (saja), senang seadanya (saja). Saya sadar untuk puas dan senang seadanya saja, tidak sampai harus membuang diri dari atap rumah. Itu lebay.

Karena saya ‘sedikit mengharapkan’, maka saya ‘sedikit menyesal-menyesal sedikit’. Saya ‘sedikit menyesal-menyesal sedikit’, karena memang tidak ada keuntungan langsung terhadap saya yang notabene adalah warga provinsi Nusa Tenggara Timur. (Barangkali ada kebijakan di DKI Jakarta yang berpengaruh langsung terhadap saya sebagai warga provinsi Nusa Tenggara Timur, saya belum tahu.) Atau kalau memang sangat berpengaruh terhadap saya, apakah saya harus senang hingga banting diri atau menjatuhkan diri dari atap rumah? Lebay.

Setiap kali melihat atau mendengar orang mengagung-agungkan pejabat tertentu, saya selalu bertanya dalam hati “Apakah benar dia tidak mencuri uang rakyat?” “Apakah benar dia tidak mencurangi rakyat?” Pertanyaan-pertanyan itulah yang selalu membuat saya bertahan ‘di tengah’; berharap sedikit, menyesal sedikit, puas seadanya, senang seadanya saja.

Share:
Posting Komentar