Selasa, 18 April 2017

Kartu Tanda Penduduk (KTP-elektronik) : Penyelamat di Warung Makan

Kartu Tanda Penduduk (KTP-elektronik) adalah identitas resmi penduduk wilayah Negara Republik Indonesia. Setiap Warga Negara Republik Indonesia maupun Warga Negara Asing (yang sudah mendapat ijin tinggal tetap) dan sudah berumur 17 tahun, wajib memiliki Kartu Tanda Penduduk tersebut.

Fungsi Kartu Tanda Penduduk (KTP-elektronik) antara lain, sebagai identitas jati diri, berlaku nasional (dapat digunakan untuk semua jenis ijin di Indonesia sehingga tidak perlu membuat KTP lokal), mencegah KTP ganda dan pemalsuan KTP serta terciptanya keakuratan data penduduk untuk mendukung program pembangunan di Indonesia.

Dahulu, sebelum ada aturan pembuatan KTP-elektronik, saya malah memiliki tiga KTP; KTP kabupaten Ende-Flores-NTT, KTP kabupaten Timor Tengah Utara-NTT dan KTP kabupaten Sleman-Daerah Istimewa Yogyakarta. Andaikan waktu itu saya pandai berbuat jahat, saya bisa saja menggunakan tiga KTP itu untuk penyamaran. Sayangnya, waktu itu saya belum sempat berpikir untuk berbuat jahat.

Beberapa kali saya benar-benar diselamatkan oleh KTP saya. Pernah beberapa kali kehabisan bensin di jalan, saya meminta bensin dari para penjual dengan menitipkan KTP. “Nanti besok baru saya datang bayar dan ambil KTP ya, pak. Saya lupa dompet.” Padahal dompet saya itu ada di saku belakang. “Maaf, pak. Saya minta bensin. Saya titip KTP. Saya ke ATM dulu baru datang ambil KTP dan bayar bensinnya.” Kasihan, ATM (mesin uang) itu juga ikut-ikutan jadi tumbal.

Beberapa kali juga KTP saya ‘nginap’ di warung makan, biasanya lebih banyak di warung burjo. Warung burjo itu warung murah di Jogjakarta dengan aneka menu; nasi telur, nasi sayur, nasi sarden, indomie rebus, indomie goreng dan lain-lain. Tahun 2006 hingga sekitar tahun 2010, kisaran harga menu-menu itu antara Rp.3.500 hingga Rp. 5.000. Tahun 2011 ke atas, pada umumnya, semua menu berkisar antara Rp. 5.000 hingga Rp. 8.000.

Kalau sudah lapar dan tak ada uang, saya biasanya pesan makanan dahulu. Saya biasanya makan dulu hingga kenyang dan minum hingga puas (Pikiran saya begitu. Memang harus makan dulu, supaya kalau nanti berkelahi dengan pemilik warung, bisa ada memiliki tenaga). Setelah makan dan minum hingga kenyang, saya biasanya minta lagi beberapa batang rokok. Ketika mau bayar itulah saya menyodorkan KTP sebagai jaminan. “Aa, tahan KTP dulu, ya. Besok baru bayar, belum dapat kiriman.” Para penjaga warung burjo yang biasanya disapa “Aa” itu biasanya tidak banyak protes, sekalipun ada tulisan besar di situ, “Dilarang Nyutang”, “Dilarang Bon”. Parsetan.

Barangkali ini juga salah satu item fungsi KTP yang lupa diangkat oleh Negara. Bahwa Kartu Tanda Penduduk (KTP-el) bisa menyelamat rakyat dari kelaparan.

Share:
Posting Komentar