Rabu, 05 April 2017

Film Silence dan Kawan Yang Diam

Film Silence
Hari ini saya beruntung karena diundang oleh salah satu mantan dosen saya untuk ikut diskusi film di kampus STPMD “APMD” Yogyakarta. Ini kali kedua saya mengikuti diskusi film di sana, tempat saya kuliah dulu. Saya katakan ‘beruntung’ karena tidak semua orang mendapat undangan untuk belajar (menerima dan memberi ilmu). Keuntungan lain adalah, saya bisa menikmati film di ruang yang menurut saya elite, seperti berada di sebuah bioskop; ruangan yang nyaman, kursi yang enak, layar lebar dan audio yang cukup. Keuntungan lain lagi adalah saya bertemu dan ‘ngopi’ dengan teman kuliah dulu (angkatan 2006) yang masih ‘berdiam’ di kampus kami itu.

Judul film yang ditonton dan diskusikan bersama para mahasiswa adalah “Silence”. Film Silence adalah sebuah drama-sejarah asal Amerika Serikat yang diproduksi di Jepang, disutradarai oleh Martin Scorsese, diadaptasi dari sebuah novel karya penulis asal Jepang bernama Shusaku Endo dan sudah pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 1971 oleh Masahiro Shinoda. Film tersebut dibintangi oleh Liam Neeson, Andrew Garfield, Adam Driver dan Tadanobu Asano.

Film Silence berceritera tentang perjalanan dua pastor Katolik ke Jepang (pastor Sebastiao Rodrigues yang diperankan oleh Andrew Garfield dan pastor Pastor Fransisco Garupe diperankan Adam Driver.) Misi kedua pastor tersebut adalah mencari Pastor Cristovao Ferreira (yang diperankan Liam Neeson) yang dikirim sebelumnya sebagai misionaris tetapi ‘hilang’ di sana.

Sepertinya judulnya, film Silence terkesan lebih banyak diam, tidak banyak percakapan yang bertele-tele. Hal tersebut tentu sesuai dengan latar belakang Jepang ketika itu. Keberadaan agama Katolik di Jepang waktu itu, boleh dibilang ‘tersembunyi’ atau ‘rahasia’ sebab pemerintah Jepang menolak segala ajaran dari luar Jepang, termasuk agama Katolik.

Pastor-pastor Katolik yang ketahuan menyebarkan ajaran agama di Jepang, ditangkap dan siksa, bahkan dibunuh. Masyarakat Jepang yang ketahuan mengikuti atau menganut ajaran Katolik, ditangkap dan disksa lalu dibunuh.

Misi kedua pastor Katolik tersebut mencapai puncaknya ketika pastor Rodrigues berhasil bertemu atau dipertemukan dengan mantan pastor Cristovao Ferreira yang sudah murtad. Peristiwa yang membuat pastor Cristovao Ferreira murtad adalah karena ditangkap dan siksa dengan cara digantung kepala ke bawah. Dalam situasi siksaan berat itu, pastor Cristovao Ferreira kemudian memilih meninggalkan iman Katolik. Pastor Rodrigues yang tak tahan siksaan, akhirnya memilih murtad juga di Jepang.

Menonton film Silence sampai tahap itu, sejenak saya membayangkan sejarah awal Gereja Katolik yang tentu banyak tantangan. Ada begitu banyak martir yang rela mati demi mempertahankan iman Katolik. Saya juga mengingat beberapa teman dekat saya yang kini menjadi misionaris di luar negeri. Tentu mereka mengalami masa-masa sulit; menyesuaikan diri dengan budaya tempat misi, karakter umat, rasa rindu akan keluarga dan sebagainya.


Kawan Yang Diam

Sehabis menonton film Silence, saya bertemu dan ‘ngopi’ bersama teman lama (teman angkatan waktu kuliah). Sebagai teman, tentu saya bertanya-tanya dalam hati, tentang masa atau lamanya waktu kuliah. Bayangkan, kami masuk kuliah tahun 2006 dan saya wisuda tahun 2010, sedangkan dia masih juga bertahan di kampus hingga 2017. Entah sudah wisuda atau belum, saya sama sekali tak mau bertanya secara langsung.

Dalam kesempatan ‘ngopi’ itu-lah kami berceritera panjang-lebar dan pertanyaan saya di kepala akhirnya terjawab. Ternyata, dia sedang menjalankan satu misi pribadi, yang menurutnya belum tuntas dilakukan. Saya akhirnya mengerti, dalam diam, dia masih bertahan untuk belajar lebih mendalam tentang beberapa teori besar, mempelajari sejarah Indonesia dari tahap nol, membaca sejarah Gereja Katolik, mendalami sejarah agama Islam, mulai mempelajari sejarah agama Hindu dan kebudayaan Nusantara. Saya tahu, dia belajar tentang itu semua, sebab dia menceriterakannya secara lengkap dan lancar.

Perjumpaan dengan kawan lama dan dalam hubungan dengan film Silence tersebut, membuat saya paham, bahwa setiap orang (sedang) menjalankan sebuah misi tertentu. Dalam proses menjalankan misi itu, tentu ada tantangan berat yang jika memuncak atau melampaui kemampuan manusia, orang akan bertanya dalam diam, “Tuhan ada di mana?”***

Share:
Posting Komentar