Jumat, 14 April 2017

Damai Paskah: Puisi “Via Dolorosa” dan Aksi Remaja Masjid

Kamis Putih Malam. Malam Cinta Kasih. Remang-remang di teras kamar kos. Sepulang Gereja, saya dan teman-teman hanya duduk diam. Masing-masing diam; ada yang melinting tembakau sek, ada menikmati kopi dingin, ada yang lebih fokus dengan handphonenya.

Saya lebih memilih membuka akun facebook dan membaca postingan teman-teman. Saya agak terkujut ketika membaca sebuah puisi berjudul “ Via Dolorosa” yang ditulis dan diposting oleh seorang mantan dosen saya. Saya memang agak terkejut dan bertanya-tanya dalam hati, karena judul puisi itu (barangkali isinya) bernuansa Katolik, sedangkan mantan dosen saya bernama Sahrul Aksa itu adalah seorang Muslim.

Saya memang sama sekali tak mau melakukan taksiran lebih atas isi puisi itu, selain malas, saya memang sedang tidak ingin berpikir yang berat-berat. Saya hanya yakin, bahwa isi puisi itu tentang Yesus, Sang Juruselamat. Berikut saya salin puisi tersebut.

VIA DOLOROSA

Malam basah dan kayu salib berlumur darah.

Ketika luka di persimpangan nadimu diawetkan gerimis awal April.

Saat Paskah menyatu pasrah dalam rosario tak putus-putus.

Aku takzim pada keteguhanmu terhadap Ning dan ketiadaan.

Juga pada Nuun serta ketulusan yang terpahat di dadamu yang tirus.


Timoho, 130417, 22:50.

(Sahrul Aksa)

Hal yang membuat saya kaget dan bertanya-tanya dalam hati adalah bagaimana mungkin seorang Muslim dapat merenung tentang Yesus hingga menuliskannya dalam sebuah puisi. Sejujurnya, saya sendiri belum pernah melakukan hal itu.

Saya memutuskan untuk lanjut membaca beberapa postingan teman-teman facebook. Saya malah menemukan hal yang sama lagi. Di facebook seorang teman bernama Rahman yang notabene adalah seorang Muslim, dia memosting beberapa foto aksi remaja Masjid di kabupaten Timor Tengah Utara yang terlibat menjaga keamanan di beberapa Gereja. Dalam foto-foto itu, terlihat para remaja Masjid duduk bersama para polisi di depan Gereja, merapikan kendaraan-kendaraan di tempat parkir bahkan membantu umat Katolik dan Kristen yang hendak menyebarang jalan.

Bagi saya, dua peristiwa yang dilakukan teman-teman Muslim itu, dapat menambah kebahagiaan dan kedamaian hati saya dalam merayakan Paskah tahun ini. Dua peristiwa itu sekaligus menjadi hadiah terindah bagi saya untuk paskah tahun ini. Terima kasih.

Share:
Posting Komentar