Jumat, 17 Maret 2017

Terminal Bayangan

Tiga tahun silam. Jam delapan malam. Di warung kopi pinggir jalan Terminal Bayangan itu, aku menemaninya menunggu bus. Bus malam.

Namanya memang Terminal Bayangan. Terminal Bayangan itu sudah ada sejak lama. Sejak aku sekolah SMP dan tinggal di kota, aku sudah melihat Terminal Bayangan itu.

Terminal Bayangan itu adalah terminal liar, terminal palsu, terminal ilegal yang barngkali diciptakan para sopir bus, para calo dan para penumpang. Para penumpang yang ingin cepat bepergian dengan sebuah bus, biasanya lebih memilih menunggu di Terminal Bayangan, daripada di terminal bus resmi.

Aroma dari dalam got di sekitar Terminal Bayangan itu sangat menyengat hidung. Bau makanan basi, oli kotor dan air dari saluran pipa beberapa bangunan di situ.

Untuk menangkal bau tak sedap dari dalam got di sekitar Terminal Bayangan itu, aku memesan dua gelas kopi hitam. Dua gelas kopi hitam itu mestinya hanya kambing hitam, bukan hanya untuk bau tak sedap dari got, tetapi untuk mengusik rasa sesak di dada. Memang ada sesak di dada, sebab itu kali kedua aku mengantarnya menunggu bus untuk pergi jauh.

Aku terus menyeduh kopi hitam yang panas dalam gelasku sambil terus menikmati sisa batang rokok di tangan kanan. Dia malah tertunduk dan mengutak-atik handphonenya sambil sesekali memintaku untuk mengirimkan kepadanya lagu-lagu Timor.

"Kirim lagu dulu."

"Lagu apa?"

"Lagu Natal. Lagu Di Dusun Kecil."

Aku membuka daftar lagu di dalam handphoneku lalu memutarnya sejenak dengan maksud memastikan judul lagu yang ia minta. Setelah mengirimkannya beberapa lagu, ia memutar lagu berjudul Di Dusun Kecil sambil terus menikmati kopinya.

Dia memang lelaki yang praktis, tanpa embel-embel apa pun. Sejak kecil ia memang seperti itu; tidak banyak bicara, tidak mau dengan hal-hal ribet dan bahkan bersikap dingin di hadapan perempuan.

Rambutnya yang keriting disisir seadanya saja. Sepatu kets berwarna putih itu juga barangkali hanya difungsikan untuk mengalas kakinya dari beling, panas serta dingin. Baju kaos leher bundar berwarna hitam dan celana jeans birunya juga mungkin hanya dijadikan sebagai alas tubuh; bukan sebuah mode yang ingin ditampilkan. Tas belakang berukuran sedang berisi beberapa potong pakaiannya disimpan begitu saja di atas trotoar.

Terminal Bayangan itu sudah memang sepi. Para calo kelihatan sudah tidak sibuk lagi mengurusi para penumpang yang menunggu bus malam. Para calo malahitu asyik duduk melingkar, menunggu jatah minuman beralkohol, mengambil saban daging anjing dari satu piring yang sama serta menikmati batangan rokok di tangan masing-masing.

“Jangan terlalu lama lagi di sana. Cepat pulang. Bapa dan mama sudah tua. Saya hanya sendiri dengan mereka di sini”.
“Iya Riko, jaga bapa dan mama e, Nanti saya kirim uang,”jawabnya dengan suara serak, berat.

Rino diam lagi sambil menahan air matanya. Aku melihat air mata yang tertahan di bola matanya. Aku memang tak tega melepasnya pergi sejauh itu lagi untuk kali kedua. Kepergiannya yang pertama memang sudah lama sekali, sejak ia tamat SMP. Terhitung tujuh tahun ia berada di tanah rantauan. Tujuh tahun berada di tanah rantauan, baru sekali itu Rino pulang kampung halaman.

Kepergiannya yang kedua pada tiga tahun silam itu membuat hatiku sangat sedih. Aku sepertinya tak tega melepasnya pergi lagi ke Malaysia, tetapi katanya ia merasa bingung menentukan pilihan hidup di kampung, di tanah lahirnya sendiri, tanah tempat ari-arinya ditanam.

“Di sini mau kerja apa?”katanya ketika aku merayunya agar tidak pergi lagi ke Malaysia.
“Kredit motor untuk ojek.”
“Ai...utang lagi.”
“Kasih uang muka besar to....”
“Biar saya pergi satu kali lagi. Saya kerja cari modal.”

Kopi hitam dalam gelas tinggal ampas. Riwayat ampas kopi hitam dalam gelasku itu akan tamat di Terminal Bayangan itu. Aku memang belum pernah mendengar ceritera daur ulang ampas kopi. Barangkali ampas kopi memang hanya untuk menjadi sampah. Entahlah, bagi lalat-lalat dan serangga sejenis. Syukurlah kalau ampas kopi hitam itu menjadi keuntungan bagi mereka; lalat-lalat dan serangga sejenis itu.
“Atau beli motor air supaya tanam sayur.”
“Air susah bagini....”

Hati memang sesak. Berat. Aku sebenarnya tidak ingin saudaraku satu-satunya itu pergi lagi, apalagi pergi sejauh itu. Ayah kami sudah tua, ibu juga. Senja, ketika ia pamit pada ayah dan ibu di kampung, mereka hanya merestui dengan air mata tanpa suara. Itu tangisan yang paling sakit menurutku. Suara terbata-bata ibu dan tangisan gemetar ayah waktu itu memang doa paling pasrah. Tetapi apa boleh buat, dia, saudaraku satu-satunya itu lebih memilih pergi lagi. Pergi lagi, jauh ke tanah rantauan Malaysia. Dahulu, dengan hanya mengandalkan hasil kebun, orangtua kami tidak berani menyekolahkan aku dan Rino secara bersamaan. Setamat SMP, selama dua tahun saudaraku Rino itu rupanya sudah bosan menjadi pemuda kampung yang hanya mengisi waktu dengan balik tanah, pagar kebun, tofa rumput serta membantu ayah dan ibu memelihara beberapa ekor ternak kami. Barangkali rasa bosan itu yang membuat Rino memilih pergi ke tanah rantauan. Malaysia.

Jam sembilan malam. Belum ada bus malam yang lewat. Terminal Bayangan itu sudah sangat sepi. Lampu remang-remang. Banyak lalat beterbangan di dalam got, mengerumuni sisa makanan. Dua ekor anjing berebutan membongkar kertas bungkusan nasi di atas trotoar. Jauh di ujung sana, seekor tikus juga berlari-lari di dalam got, mencari sisa makanan lalu berlari lagi.

Para calo Terminal Bayangan sudah mabuk alkohol. Mereka kelihatan tak mau peduli lagi pada kami. Mereka kelihatan lebih asyik bernyanyi bersama, menunggu jatah minuman bergilir dari gelas yang satu dan sama, mengunyah potongan daging anjing sebagai saban, menghisap rokok masing-masing, bercanda lalu tertawa riang. Seolah pekerjaan mereka di Terminal Bayangan itu sudah usai.
* * *

Pernah diterbitkan Majalah Warta FLOBAMORA
Share:
Posting Komentar