Jumat, 17 Maret 2017

Sekolah, Sebuah Obsesi


Penulis : Dr. Paul Budi Kleden

Ruben berkisah di dalam novel ini tentang perjuangan Yanto, putera sulung dari sebuah keluarga sederhana di pedalaman TTU. Unu, demikian Yanto disapa dalam keluarga sebagai putera sulung, memiliki tekad membara untuk bersekolah. Itu mimpinya, dan
dia terobsesi pada mimpi itu. Bersekolah, karena dia tahu hanya dengan itu dia dapat menerobos isolasi yang terpasang ke kampung dan orang-orang sekaumnya. Bersekolah, sebab langkah ini akan mengangkat harga diri keluarga dan kampungnya.

Namun, apa artinya mimpi seorang anak kampung, kendati anak lelaki sulung sebuah masyarakat patriarki, apabila tidak ada uang? Apa daya sebuah tekad dan cita-cita seorang pemuda berhadapan dengan kebijakan pendidikan penguasa yang tidak ramah masyarakat miskin?

Yanto, si Unu dalam novel ini toh akhirnya berhasil, karena kerja keras luar biasa dari orangtua dan kesediaan berkorban kedua adiknya, Simon dan Rian. Memasak sopi dan menjualnya kendati harus cerdik berhadapan dengan aparat, memetik hasil kebun yang tidak seberapa dan menjualnya di pasar, dilakukan oleh kedua orangtua yang terobsesi pada sekolah anaknya. Unu mesti bersekolah, itu sudah menjadi keputusan dan isi hidup kedua orangtua. Keadaan menjadi lebih mudah, saat Simon dan Rian pun bersedia meninggalkan sekolahnya agar si sulung dapat menyelesaikan pendidikannya. Mereka pun sebenarnya punya mimpi. Namun mimpi mereka mesti dihentikan sebelum menjadi kenyataan, karena keadaan tidak memungkinkan ketiganya bersekolah. Ini sikap dua bersaudara dalam satu masyarakat yang masih menomorsatukan anak pertama dalam keluarga.

Menilai apa yang mesti dialami kedua adiknya, Unu yang ditampilkan sebagai orang pertama dalam novel ini, berkata: "Kemelut yang pernah dihadapi orangtuaku, mungkin akan disambung oleh Rian dan Simon. Sebuah mata rantai yang entah kapan akan putus. Pagi itu seolah dipaksakan datang lebih cepat. Cerita mimpi belum sempurna.Mereka terlanjur terbangun oleh gangguan suara sumbang yang selalu menghantui. Mereka seperti tidur di pinggir jalan tanpa bantal dan selimut yang nyaman. Sebuah harapan yang terbungkam oleh egoisme pemilik kekuasaan."

Novel Ruben Paineon mengingatkan kita akan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Novel yang lahir dari pengolahan kreatif atas serpih-serpih pengalaman nyata masa kanak-kanak, melukiskan dunia pendidikan. Sebuah novel realis yang "menunjukkan pada kita bahwa pendidikan adalah memberikan hati kita kepada anak-anak, bukan sekadar memberikan instruksi atau komando, dan bahwa setiap anak memiliki potensi unggul yang akan tumbuh menjadi prestasi cemerlang di masa depan..." (Kak Seto, Ketua Komnas Perlindungan Anak). Sebuah novel tentang pendidikan yang membuktikan betapa "Tidak pernah ada yang bisa mengalahkan kekuatan cinta yang murni dan tulus....yang mendalam menebarkan energi positif yang tidak hanya mengubah hidup seseorang, tetapi juga menerangi kehidupan orang banyak" (Kompas).

Di masa kecilnya para anggota laskar pelangi terpencil dari kemewahan keluarga dan sekolah elit asuhan PN Timah Belitong. Ia sekolah di sebuah SD-SMP Muhammadyah yang melarat, yang bahkan jendelanya pun tidak bisa ditutup lantaran bangunannya yang miring membuat kusennya tak lagi simetris dengan daun pintu dan jendelanya. Tapi siapa nyana, isi kepala salah seorang anak itu kemudian menerbangkannya ke Universitas Sorbonne Paris dan Sheffield Hallam University, di mana ia lulus dengan cum laude? Siapa sangka, anak Belitong udik yang melarat di masa kanak-kanaknya ini bisa menelurkan Laskar Pelangi, sebuah novel yang memukau dengan kecerdasan yang jenaka, di dalamnya nilai-nilai luhur dirayakan dengan penuh syukur?

Ini bukan suratan takdir yang tergurat di garis tangan. Semangat kesepuluh laskar pelangi untuk sekolah seperti dinamit. Bersepeda 40 kilometer tiap hari bukan halangan bagi si Lintang untuk melahap ilmu pasti dan merayakan persahabatan di sekolah yang bangunannya miring itu. Dan beruntung, anak-anak itu memiliki Pak Harfan dan Bu Mus, dua guru dusun yang melihat murid-murid sebagai mutiara yang meski dikilapkan dengan ilmu dan cinta. Juga beruntung para laskar pelangi itu karena punya orangtua yang meski melarat secara ekonomi, mendukung anak-anak mereka sehabis-habisnya agar bisa menimba ilmu.

Paineon dan Hirata sebenarnya melukiskan dua hal yang sangat penting bagi dunia pendidikan. Pertama, motivasi belajar seorang anak. Sekolah menjadi semacam obsesi yang tidak akan dilepaskan. Hanya kalau keinginan bersekolah tertanam demikian mendalam, berbagai tantangan dan persoalan dapat dihadapi.

Justru dalam hal ini kita mengadapi persoalan besar. Hemat saya, kita sedang menghadapi tantangan sangat besar berkaitan dengan motivasi belajar. Tantangan itu tampil dalam bentuk pengangguran orang-orang yang telah bersekolah, malah sampai ke tingkat perguruan tinggi. Untuk apa bersekolah kalau setelah semuanya itu saya toh mesti kembali ke kampung, hanya bisa menghabiskan waktu di pinggir jalan? Apa lebihnya ijazah yang diperoleh kalau setelah itu saya harus melaut bersama sahabat-sahabat saya yang gagal di sekolah atau tidak melanjutkan pendidikannya? Apa gunanya mengeruk sedemikian banyak uang dari orangtua untuk biaya pendidikan, kalau setelah memperoleh ijazah kembali lagi kita bergantung pada mereka? Kenapa mesti bersekolah, kalau toh pada akhirnya semua kemungkinan untuk bekerja dijamin oleh ada tidaknya relasi? Ya, untuk apa bersekolah?

Untuk membantu menumbuhkan kembali minat malah obsesi pada sekolah, pertama-tama penyelenggaraan sekolah harus dibenahi. Pendidikan perlu semakin mengarahkan orang kepada pemilikan sejumlah keahlian praktis yang membuat seseorang mempunyai nilai lebih dibanding mereka yang tidak sempat bersekolah. Selain itu, kebijakan penempatan tenaga kerja harus mendapat perhatian serius. Kesewenang-wenangan dalam distribusi tenaga kerja tidak saja berdampak pada mereka yang melamar kerja, tetapi juga terhadap anak-anak dalam usia sekolah.

Paineon menunjukkan dalam ceriteranya dari TTU bagaimana tekad untuk membalas budi telah berperan dalam memacu semangat belajar Yanto. Bayangan ibu dan ayah yang berjeri lelah serta kedua adik yang terpotong mimpi masa mudanya, mendorong dia untuk tekun dalam belajar dan menjaga diri dalam pergaulan.

Di sini pun tampaknya kita tengah menghadapi persoalan. Bersamaan dengan kesadaran baru dalam masyarakat, tampaknya semakin banyak anak tidak melihat lagi perjuangan dan kerja keras orangtua sebagai jasa yang mesti diimbangi dengan kesungguhan. Pandangan kian meluas bahwa pendidikan anak adalah kewajiban orangtua. Sebab itu, wajah yang berkeringat dari ayah dan kaki yang gemetar dari ibu yang menjinjing bawaan ke pasar, tidak lagi menjadi gambaran yang memacu semangat belajar. Itu dilihat sebagai sesuatu yang wajar.

Kedua, dukungan pihak terdekat. Paineon berbicara tentang keluarga, Hirata tentang guru. Tanpa kerja keras dan kesungguhan keluarga dan para guru, motivasi belajar seorang anak tidak akan pernah dapat membuahkan hasil. Orangtua, juga yang sangat sederhana, dapat memiliki semangat yang sangat menentukan dan memacu daya juang anak-anak. Dan peran guru dilukiskan secara demikian menarik oleh Hirata. Pak Harfan dan Bu Mus telah membangkitkan imaginasi dan daya juang yang tinggi dalam diri para muridnya. Mungkin kedua hal ini paling utama dalam setiap pendidikan dasar: imaginasi dan daya juang.

Tentu kita mesti menambahkan pemerintah dalam deretan ini. Paineon seakan menggugat kebijakan pendidikan dari pihak penguasa yang tidak memperhatikan secara memadai kondisi keluarga-keluarga miskin. Pembicaraan mengenai pendidikan yang digratiskan bagi orangtua perlu dipertimbangkan dan disosialisasikan secara tepat agar tidak menimbulkan gambaran yang salah dalam diri para orangtua.

Motivasi pelajar, dukungan dari orangtua, keluarga dan pemerintah, hal-hal ini perlu dibarui pada awal tahun sekolah ini. *

Staf Pengajar STFK Ledalero, Maumere-Flores.

Share:
Posting Komentar