Minggu, 19 Maret 2017

Resensi Cerpen: Pengais Tuhan


POS-KUPANG.COM, KUPANG --- Berikut Cerpen berjudul Pengais Tuhan karya Ricko B yang dikritisi oleh Unu Ruben Paineon dari Perkumpulan Lopo BIINMAFO.

AKU cemas dengan wajah kotaku yang lusuh dan layu. Aku malu dengan wajah kotaku yang muram, tak bergairah, tak punya hasrat hidup; bahkan untuk hidup satu hari saja. Aku gundah dengan wajah kotaku yang bau amis di mana-mana. Dan, aku lebih muak lagi dengan tingkah kotaku yang selalu melumuri tubuhnya dengan darah; ya darah anak tanahnya sendiri. Hancur sudah kotaku yang dulu jaya dan bersahaja. Apa sebab kotaku jadi begini? Mungkinkah Tuhan sudah meninggalkan kotaku? Mungkin Tuhan sudah berpaling dan tak mungkin menampakkan batang hidungNya lagi di kotaku? Ataukah Tuhan ingin menghukum kotaku, memusnahkannya, seperti kota kuno Sodom dan Gomora?

Aku tak tahu lagi. Yang aku tahu, kalaupun Tuhan ada, maka darimana datangnya semua kejahatan ini? Sebab dulu, orang-orang kotaku dengan bangga berseru, "Kalau Tuhan tidak ada, darimana datangnya semua kebaikan?" Tetapi sekarang kebaikan itu sirna ditelan keangkuhan, ambisi, dendam, dan amarah. Bahkan bila kebaikan itu hanya sekedar konsep, tak ditemukan lagi konsep itu di kotaku lagi.

Di ujung jalan, persisnya di depan gedung apotek, ada pertigaan yang semuanya mengarah ke pusat kota. Dahulu kawasan itu padat. Sekarang, ada seorang bocah dengan wajah pucat, bibir kering, dan tubuh kurus kering, sedang mengais sampah sambil sesekali memasukkan apa saja yang bisa dia masukkan ke dalam mulutnya yang kering.

Setiap orang yang melintas harusnya langsung sadar; "bocah itu lapar." Namun entah kenapa tak ada yang membantunya. Hingga malam merayapi kota, bocah itu belum jua beranjak dari tempat itu. Ia seperti tak kenal waktu lagi, tak kenal hukum alam. Oleh karena lapar yang menyengat sangat, ia sudah tak sanggup menyadari kalau yang menemaninya mengais sampah setiap hari hanya matahari dan bulan.

Sebuah mobil tua, Kijang keluaran tahun 90-an, pelan-pelan memperlambat lajunya saat melintas di depan gedung apotek itu. Mobil itu berhenti di dekat sang bocah yang tak peduli. Seorang pria separuh baya turun dari mobil. Dengan jas hitam panjang menutupi sampai mata kaki dan setelan celana jins pudar berpadu dengan kaos bergambar Soekarno, pria itu tampak cukup elegan. Beberapa menit ia memandangi bocah pengais itu.

"Nak, di mana kamu tinggal?" pria tua itu mencoba memecah kesunyian malam. Bocah itu tak menjawab. Baginya, pertanyaan-pertanyaan itu sudah sering ia dengar. Suara-suara seperti itu adalah suara-suara hampa tanpa makna yang ia dengar setiap hari dan setelah ia menoleh suara itu menjauh dan menjauh dan pergi tanpa peduli. Yang paling penting baginya sekarang adalah makanan.

"Di mana kamu tinggal, nak?" bocah itu tak merespons. Pria itu berbeda. Ia tidak hilang akal. Ia membuka pintu mobilnya dan mengambil sebongkah roti cokelat dari dalamnya. Aroma roti cokelat itu dengan cepat mencemari udara hingga hinggap di hidung sang bocah. Ia menoleh, menatap wajah sang pria yang semenjak memegang roti itu sudah mengumbar senyum.

Bocah itu mendekat dengan belas kasihan yang sungguh, mengharapkan dengan sangat dapat meraih roti cokelat itu. Pria tua itu segera tahu apa yang bocah itu mau. Dia menyodorkan roti itu kepada sang bocah yang langsung menyambar pemberian itu. Dengan rongga mulut yang kering akibat rasa lapar yang akut, bocah itu melahap roti cokelat itu tanpa sisa.
"Di mana kamu tinggal, nak? Tanya pria berjas itu sekali lagi.

"Di Pasar Oebobo." Jawab bocah itu dengan mulut yang penuh roti. Pria itu menggeleng seperti timbul simpati di dalam hatinya.
"Kamu sendiri?" Bocah itu mengangguk.
"Orang tua?"
Bocah itu menggeleng"
"Keluarga?"
Ia menggeleng. Roti di mulutnya hampir selesai dikunyah.
"Teman?"Ia mengangguk. Bocah itu mulai bercerita.

Teman-teman saya ada di tempat-tempat kotor di kota ini. Mereka mengais seperti saya. Mereka mencari makanan sisa siang-malam. Mereka pun tak dapat tidur nyenyak sebelum mendapat secuil makanan. Roti yang seperti saya dapat ini sudah terlalu banyak. Mereka pasti akan iri melihat roti ini ada di dalam mulut saya. Ya, mereka semua tersebar di semua penjuru kota seperti tikus-tikus kota yang lapar sedang mencari makanan di pembuangan-pembuangan.

Pria itu menatapnya. Ia dapat merasakan kerasnya hidup di kota ini melalui mata bocah yang kini ada beberapa centi di hadapannya. "Kita cari mereka yang lain!" Sejurus kemudian keduanya meninggalkan tempat kumuh itu. Mobil kijang tua itu melesat di jalanan kota yang sepi, menembusi malam yang dingin, mencari bocah-bocah kelaparan itu. Hasilnya; seorang bocah sendirian, tengah mengais dengan serius sekali di antara gedung-gedung pertokoan Lai-Lai Besi Kopan yang menjulang mengangkasa, sebuah simbol kapitalisme yang mustahil lenyap dari sejarah peradaban manusia. Wajah bocah itu kotor, pakaiannya compang-camping. Satu kesan yang muncul; lapar mengalahkan dinginnya malam. Malam itu sungguh menjadi miliknya sendiri. Di benaknya mungkin hanya ada dia dan bumi yang dipijak.

Mobil itu berhenti beberapa meter saja dari si bocah kumul. Sang pria tua turun dari mobil meninggalkan bocah pertama yang ditemukan tadi di dalam mobil. Pria itu menatap si bocah dengan kasihan. "Nak, apa yang kamu cari?"

Dia terus mengais, seolah tak mendengar apa-apa. Baginya, menjawab sama saja dengan menanggung malu yang ke sekian kalinya sebab yang akan ia dapat hanya cemoohan konyol yang sangat tidak perlu sebenarnya. Pria itu tahu apa yang dia butuhkan. Ia mengeluarkan sebungkus roti cokelat dari dalam saku jasnya. Segera, aroma roti itu menyengat di udara dan sampai di hidung bocah pemulung itu. Ia sejenak menyibak, menoleh sebentar ke arah datangnya aroma roti. Pria itu tersenyum, menunjukkan giginya yang putih kekuning-kuningan.

Bocah itu tak membalas senyum. Ia kembali mengais, mengais, mencoba menemukan sesuatu yang terbuang percuma di tempat sampah yang tidak diperlukan lagi oleh warga kota. Tak sedikit pun ia tergiur dengan sepotong roti cokelat yang ia anggap fana itu.
Pria itu terpaku. Heran. Bocah ini tidak seperti yang ia bayangkan; tidak seperti bocah yang pertama dan mungkin bocah-bocah lain yang lapar dan begitu senang ketika mencium aroma roti cokelat. Pria itu bertanya-tanya dalam hati, "apa yang sedang bocah ini lakukan, apa yang sedang ia cari di tempat sampah kota ini? Bukankah sepanjang sejarah kota, hanya orang-orang lapar saja yang mengais-ngais di tempat-tempat sampah kota, mencari sesuatu yang bisa dimakan hanya untuk menambal perut yang sudah terlanjur tak berisi? Bukankah setiap pengais di kota ini akan segera berhenti mengais apabila sudah mendapat apa yang ia butuhkan yakni makanan atau sesuatu yang bisa dijual, ditukar dengan uang untuk kemudian membeli makanan?" Namun, malam itu, bayangan pria itu berubah seketika. Bocah di hadapannya berbeda. Aneh. Ia sedang mencari sesuatu (atau seseorang) yang tidak dicari pengais lainnya. Yang dicarinya bukan makanan. Ia tidak lapar.

Lama berdiri dan menatap dan tergerak oleh penasaran, pria itu kembali bertanya sambil memasukkan roti cokelat ke dalam saku jasnya, "apa yang kamu cari, nak? Kalau bukan makanan, apalagi yang kamu cari?" Mendengar suara lembut itu, bocah itu berhenti mengais, membalikkan tubuhnya yang kurus, menatap kembali pria aneh itu. Wajahnya kotor, lusuh. Tubuhnya layu. Pakaiannya penuh bercak sampah lembab. Tapi sorot matanya yang nanar memandang tajam jauh penuh harap hamparan cakrawala yang menudungi kota.

"Saya sedang mencari Tuhan," seru bocah itu memecah sunyi dan sayup-sayup angin malam. Pria itu menganga.
"Saya sedang mencari Tuhan di tempat sampah ini. Saya yakin Tuhan sudah terbuang di tempat kotor ini dan saya ingin menemukannya lagi. Kota ini telah membuangNya. Maukah Tuan membantu saya menemukanNya di sini, di tempat najis ini?"
Pria itu membisu. Dengan sedih ia kembali ke dalam mobilnya dan pergi sambil berharap tidak bertemu bocah itu lagi.
*****************

Pria itu terpaku. Heran. Bocah ini tidak seperti yang ia bayangkan; tidak seperti bocah yang pertama dan mungkin bocah-bocah lain yang lapar dan begitu senang ketika mencium aroma roti cokelat. Pria itu bertanya-tanya dalam hati, "apa yang sedang bocah ini lakukan, apa yang sedang ia cari di tempat sampah kota ini? Bukankah sepanjang sejarah kota, hanya orang-orang lapar saja yang mengais-ngais di tempat-tempat sampah kota, mencari sesuatu yang bisa dimakan hanya untuk menambal perut yang sudah terlanjur tak berisi? Bukankah setiap pengais di kota ini akan segera berhenti mengais apabila sudah mendapat apa yang ia butuhkan yakni makanan atau sesuatu yang bisa dijual, ditukar dengan uang untuk kemudian membeli makanan?"

Namun, malam itu, bayangan pria itu berubah seketika. Bocah di hadapannya berbeda. Aneh. Ia sedang mencari sesuatu (atau seseorang) yang tidak dicari pengais lainnya. Yang dicarinya bukan makanan. Ia tidak lapar. Lama berdiri dan menatap dan tergerak oleh penasaran, pria itu kembali bertanya sambil memasukkan roti cokelat ke dalam saku jasnya, "apa yang kamu cari, nak? Kalau bukan makanan, apalagi yang kamu cari?"
Mendengar suara lembut itu, bocah itu berhenti mengais, membalikkan tubuhnya yang kurus, menatap kembali pria aneh itu. Wajahnya kotor, lusuh. Tubuhnya layu. Pakaiannya penuh bercak sampah lembab. Tapi sorot matanya yang nanar memandang tajam jauh penuh harap hamparan cakrawala yang menudungi kota.

"Saya sedang mencari Tuhan," seru bocah itu memecah sunyi dan sayup-sayup angin malam.
Pria itu menganga.
"Saya sedang mencari Tuhan di tempat sampah ini. Saya yakin Tuhan sudah terbuang di tempat kotor ini dan saya ingin menemukannya lagi. Kota ini telah membuangNya. Maukah Tuan membantu saya menemukanNya di sini, di tempat najis ini?" Pria itu membisu. Dengan sedih ia kembali ke dalam mobilnya dan pergi sambil berharap tidak bertemu bocah itu lagi.

*****************

KRITIK CERPEN

Oleh Unu Ruben Paineon

SIAPA berhak membuat definisi dan mengklaim diri sebagai manusia yang paling beradab? Ricko W dalam cerpennya yang berjudul "Pengais Tuhan" sesungguhnya telah menunjukkan kelumpuhan konsep di hadapan pengalaman manusia dan fakta-fakta mereka yang mengalaminya.

Masalah yang diangkat dalam cerpen ini adalah religiusitas masyarakat di Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pertanyaannya, mengapa yang menjadi latar tempat adalah dua tempat yang cukup ramai di Kupang, Pasar Oebobo dan pertokoan Lai-lai Besi Kopan? Apakah kedua tempat ini merupakan Sodom dan Gomora modern? Ricko secara tidak langsung mengajak pembaca menuju suatu refleksi mengenai "keberadaban" dan keberadaan Tuhan di tengah-tengah peradaban yang selalu disebut modern ini.

Menggunakan alur progresif dalam cerpen ini memungkinkan pembaca bisa dengan mudah mengikuti ceritanya secara kronologis. Ricko mengawali ceritanya dengan menghadirkan refleksinya sendiri mengenai keberadaan Tuhan, seperti yang terdapat dalam kutipan berikut.

"Yang aku tahu, kalaupun Tuhan ada, maka darimana datangnya semua kejahatan ini? Sebab dulu, orang-orang kotaku dengan bangga berseru, "Kalau Tuhan tidak ada, darimana datangnya semua kebaikan?"

Selanjutnya Ricko mulai menghadirkan beberapa fakta yang kontras dan mengajak pembaca untuk menikmati pertentangan yang disajikan. Seorang bocah lapar yang mengais sampah di depan apotek lalu dihampiri seorang pria paruh baya yang mengendarai mobil yang memberinya roti cokelat kemudian keduanya bertemu dengan seorang bocah yang lain, yang pada akhirnya diceritakan sebagai pengais Tuhan di tempat sampah. Suatu sajian yang sederhana, sedikit datar dan terkesan biasa-biasa saja.

Karya sastra, khususnya fiksi, sering disebut sebagai dunia dalam kata. Hal ini disebabkan dunia yang diciptakan, dibangun, ditawarkan, diabstraksikan serta ditafsirkan lewat kata-kata, lewat bahasa. Dalam cerpen ini, Ricko menggunakan kata-kata yang sederhana sehingga mudah dimengerti. Namun sebagai suatu karya sastra, pilihan kata yang konotatif dapat dijadikan unsur untuk menyampaikan maksud yang sebenarnya.

Tiga tokoh yang dihadirkan oleh pengarang dapat diinterpretasi sebagai keadaan manusia saat ini. Kedua bocah pengais sampah berkonotasi masyarakat yang masih terbelakang sekaligus menyaran pada betapa keterpencilan dan kesederhanaan hidup yang nyaris mendekati keprimitifan masyarakat. Sampah sebagai metaforis lokasi yang terpencil, terisolasi, menjijikkan, dan selalu dijauhi. Bocah pertama adalah simbol masyarakat bodoh dan terbelakang yang tidak menyadari kebodohan dan keterbelakangannya. Mereka hanya hidup dengan intuisi yang sepenuhnya didasarkan dari sasmita alam dan uluran tangan orang lain.

Sebaliknya, bocah kedua dapat diinterpretasi sebagai masyarakat cukup yang sadar akan keberadaan dan keterbelakangannya. Mereka yang selalu mau menghadirkan Tuhannya. Sementara sosok pria paruh baya berjas hitam yang dipadukan dengan kaos bergambar Soekarno merupakan simbol pemerintah atau pemimpin dan para politikus yang selalu menggunakan idealisme hanya sebagai topeng. Hal ini menunjukkan bahwa tidak perlu konflik yang rumit dan klimaks yang menggigit, dengan pilihan kata-kata yang sederhana Ricko mampu menciptakan sebuah karya sastra yang koheren dan cukup estetis serta peka terhadap peradaban manusia modern. Namun tidak menutup kemungkinan juga bagi Ricko untuk bisa lebih berani lagi menampakkan konflik dan klimaksnya.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam cerpen ini yakni sudut pandang (point of view). Ricko dalam cerpennya menggunakan sudat pandang "aku" tokoh tambahan. Berkaitan dengan hal ini, Nurgiyantoro (2010:265) menyatakan bahwa si "aku" tampil sebagai saksi, witness saja. Saksi terhadap berlangsungnya cerita yang ditokohi oleh orang lain. Si "aku" pada umumnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita. Jadi, si "aku" tersebut muncul dan berfungsi sebagai "bingkai cerita".

Pada awal cerita, si "aku" tampil membawakan cerita kepada pembaca, kemudian menghadirkan ketiga tokoh yang lain. Ketiga tokoh itu lalu "dibiarkan" mengisahkan sendiri pengalamannya, sedangkan si "aku" seperti menghilang begitu saja sampai akhir cerita. Sebagai "bingkai cerita", Ricko seharusnya konsisten dengan posisinya. Si "aku" seharusnya tampil sebagai pengantar dan penutup cerita. Selamat kepada Ricko W, dan teruslah menulis. *

* Penulis tinggal di Kefamenanu, aktif di Perkumpulan Lopo BIINMAFO dan kontributor Warta Flobamora.

Share:
Posting Komentar