Jumat, 17 Maret 2017

Proses Pembuatan Bet Ab Meto -Tai Ab Meto

Foto : Koleksi pribadi
Bet ab meto tai ab meto merupakan kalimat bahasa Dawan untuk menyebut nama kain tenunan di kabupaten Timor Tengah Utara-NTT. Bet berasal dari kata dasar bahasa Dawan bete =kain tenunan yang biasanya dipakai oleh kaum laki-laki, sedangkan tai berasal dari kata dasar tais =kain tenunan yang biasanya dipakai kaum perempuan. Ab berasal dari kata dasar abas=benang/kapas, sedangkan meto secara harafiah artinya kering. Meto di sini juga dimengerti sebagai masyarakat Timor itu sendiri. Jadi Bet ab meto tai ab meto secara keseluruhan artinya kain tenunan tradisional (hasil karya) masyarakat Timor.

Disebut Bet ab meto tai ab meto karena proses pembuatannya masih terbilang tradisonal dan menggunakan bahan-bahan lokal. Bahan dasar untuk membuat Bet ab meto tai ab meto adalah kapas. Pohon kapas yang ditaman hingga berbuah membutuhkan waktu 4-5 bulan (pohon kapas hibrida) atau 6-7 bulan (pohon kapas lokal). Buah kapas dibiarkah hingga tua dan mengembang. Buah kapas tersebut kemudian dipetik dan dijemur pada panas matahari antara 2-3 hari. Buah kapas yang mengembang itu dinamakan aba teme.

Buah kapas (aba teme) tersebut memiliki kulit, biji dan sari. Proses memisahkan kulit, biji dan sari itu dinamakan bnini. Alat bernama bnini dimasukan ke dalam buah kapas untuk memisahkan sari kapas tersebut. Setelah proses pemisahan, selanjutnya kapas dihaluskan dengan alat bernama sifo. Sifo adalah potongan bambu yang kedua ujungnya diikatkan seutas tali hingga berbentuk seperti busur. Sifo digunakan untuk menghaluskan sari kapas yang kemudian disebut aba nafu.

Aba nafu kemudian digulung dengan menggunakan lidi hingga terbentuk seperti batangan rokok dalam ukuran besar, sebesar ibu jari orang dewasa. Gulungan-gulungan seperti batangan rokok tersebut disebut aba nasu. Aba nasu tersebut kemudian dipintal menjadi benang, bentuknya seperti benang modern saat ini.

Proses pemintalan sari kapas menjadi benang dinamakan ta’sun. Alat yang digunakan untuk memintal kapas menjadi benang dinamakan ike dan suti. Sari kapas yang sudah dipintal menjadi benang, kemudian diwarnai dengan bahan-bahan lokal. Untuk memberi warna merah pada benang, masyarakat lokal, secara turun temurun menggunakan sejenis pohon bernama baok ulu. Warna kuning menggunakan kunyit (huki), warna hijau menggunakan daun dan batang kacang hutan, sedangkan warna hitam menggunakan sejenis pohon merambat bernama taum.

Pewarnaan secara modern menggunakan kasumba. Benang yang sudah diwarnai tersebut kemudian digulung pada suatu wadah hingga membentuk bulatan, seperti bola kasti. Proses menggulung benang membentuk bulatan ini dinamakan taun abas.

Setelah proses panjang mengubah buah kapas hingga menjadi benang, para wanita melanjutkan proses pembuatan bet ab meto tai ab meto selanjutnya yang disebut tnaon. Pada tahap tnaon ini, benang-benang yang sudah digulung, dililitkan secara rapih pada seperangkat alat yang digunakan untuk menenun. Pada tahap tnon ini, dibutuhkan dua orang; yang satunya akan memberikan gulungan dan yang lainnya lagi menerima dan melilitkan gulungan benang itu pada perangkat-perangkat untuk menenun yakni, nekan=potongan bambu berukuran 2 meter (nekan), sial=lidi dari bambu untuk membuat motif tenunan, ut= kayu penyangga, puat=pengendali benang atau mesin, senu=sebilah kayu berbentuk parang yang digunakan untuk mengencangkan motif yang sudah dibuat, niun=pengikat punggunggung yang biasanya terbuat dari kulit binatang (kulit sapi).

Untuk menghasilkan sebuah bet ab meto atau tai ab meto memakan waktu kurang lebih 1-2 tahun. Harga jual Bet ab meto tai ab meto sekarang berkisar antara 3-10 Juta ribu rupiah. Kelebihan dari bet ab meto tai ab meto pembuatannya menggunakan bahan-bahan lokal, proses tradisional, kualitasnya kuat dan tahan lama serta kebal terhadap cuaca dingin.

Demikian ulasan singkat mengenai proses panjang pembuatan Bet ab meto tai ab meto oleh kelompok tenun Desa Kiusili, Kecamatan Bikomi Selatan, kabupaten Timor Tengah Utara. Bet ab meto tai ab meto adalah sebuah karya ajaib peninggalan nenek moyang yang dihasilkan melalui proses yang panjang. Semoga generasi ini tetap menghargai buah pemikiran nenek moyang tersebut dengan melestarikannya.

Sumber Informasi:
Akulina Asuat, 75 Tahun, warga Desa Kiusili
Maria Asuat, 67 Tahun, warga Desa Kiusili
Anjelina Oematan, 46 Tahun, warga Desa Kiusili.

Artikel ini pernah diterbitkan Majalah Warta FLOBAMORA
Share:
Posting Komentar