Minggu, 19 Maret 2017

Kure di Kote: Sebuah Wisata Religius


Foto: Nina Purwayantini (Masyarakat Kampung Kote)

Jalan-jalan menuju kampung Kote, kabuten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur, ditutup. Kendaraan bermotor diparkir jauh dari kampung; di gerbang-gerbang ujung kampung. Tidak boleh ada kendaraan bermotor yang melintasi kampung. Lampu-lampu minyak disusun di atas potongan bambu mengelilingi jalan seluruh kampung. Gapura-gapura dari daun kelapa didirikan di depan setiap ume mnasi (rumah adat). Seperti tahun-tahun sebelumnya, menjelang Tri Hari Suci (Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Alleluya), semua umat beriman Katolik di Kote-Noemuti-Timor Tengah Utara-NTT, sibuk menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan upacara Kure.

Kure adalah sebuah istilah asing dalam perbendaharaan bahasa Dawan. Kata Kure sendiri bisa berasal dari bahasa Latin Currere yang berarti berjalan, menjelajahi seluruh, merambat. Dalam artian ini kata Kure bisa dimengerti sebagai sebuah kegiatan berjalan sambil berdoa dari rumah adat yang satu menuju rumah adat yang lain. Menjelajahi seluruh rumah adat untuk berdoa bersama-sama. Kata Kure bisa juga berasal dari kata Latin cura, yang mempunyai pengertian ibadah, penyembahan kepada dewa-dewa dan pemeliharaan.

Kure di kampung Kote-Noemuti, menurut sejarah, merupakan sebuah warisan budaya religius dari para penjajahan. Pada masa penjajahan, tentara Portugis (Topasis) yang saat itu datang bersama para imam Katolik Fransiskan, memperkenalkan dan menyebarkan agama Katolik kepada penduduk kampung Kote di Noemuti. Salah satu peninggalan para imam Fransiskan dalam misi penyebaran iman Katolik itu adalah menempatkan patung-patung Kudus dan benda-benda devosional pada rumah-rumah adat (ume mnasi) yang ada di kampung Kote-Noemuti.

Penempatan patung-patung Para Kudus dan benda-benda devosional pada setiap rumah adat (ume mnasi) tersebut diikuti dengan sebuah tradisi penumbuhan iman yakni doa bergilir dari satu rumah adat ke rumah adat lainnya saat Pekan Suci Paskah. Tradisi doa bergilir yang dilaksanakan pada malam Kamis Putih dan malam Jumat Agung dalam rangkaian memperingati Hari Raya Paskah inilah yang dikenal sebagai tradisi Kure di kampung Kote.

Prosesi Kure diawali dengan ritual boe nekaf (pengosongan diri), pada hari Rabu (satu hari sebelum memasuki Tri Hari Suci). Ritual boe nekaf (Pengosongan diri) dikenal dengan ritual trebluman. Pada ritual ini, semua rumpun suku setiap ume mnasi (rumah adat) berkumpul bersama untuk berdoa, merenung dan menyesali dosa-dosa (polin lais matoas, polin nek amle’ut = membuang atau menyingkirkan kata dendam, marah dan menyingkirkan hati yang jahat).

Ritual boe nekaf (pengosongan diri) dilakukan bersama di Gereja pada jam 17.00 Wita. Utusan dari setiap Ume Uis Neno (rumah adat tempat bersemayam Tuhan) bersama umat berdoa bersama di Gereja dengan menyalakan 13 lilin berbentuk kerucut mengelilingi altar yang melambangkan Yesus dan 12 Rasul. Pada setiap akhir nyanyian lagu, dipadamkan 2 lilin, begitu seterusnya hingga lilin ke 12. Lilin ke 13 yang terus bernyala disimpan di bawah altar dan lampu dipadamkan serta lonceng dibunyikan sebanyak tiga kali.

Bersamaan dengan bunyi lonceng yang ke tiga, terjadi prosesi pengusiran roh jahat. Semua umat dalam Gereja bertepuk tangan serta lampu-lampu pada semua rumah penduduk di kampung Kote dipadamkan. Semua umat ume usi neno (rumah adat tempat bersemayam Tuhan) melakukan bunyi-bunyian dengan bertepuk tangan dan memukul dinding rumah sambil menyerukan “poi ri rabu”( enyalah roh jahat). Hal ini dilakukan secara berama oleh 18 rumpun penghuni Ume Usi Neno.

Pada Hari Kamis (Kamis Putih), dilakukan ritual taniu Uis Neno (Memandikan/membersihkan Tuhan). Pagi hari jam .09.00 Wita, dua orang utusan tiap Ume Usi Neno didampingi satu orang amnasit (tua adat) berkumpul di Gereja. Setelah doa pengambilan air (soet oe) oleh pastor, para utusan ume mnasi berarak ke sungai untuk mengamabil air dan dua batu pipih yang akan digunakan membersihkan patung-patung dalam rumah adat. Dua batu pipih digunakan untuk menghaluskan tebu sebagai alat pembersih patung atau benda religi. Air dan dua batu pipih akan diberkati oleh pastor dan digunakan untuk menbersihkan benda-benda religi dalam rumah-rumah adat di kampung Kote.

Ritual pembersihan dan penyerahan diri kepada sang Khalik sekaligus ungkapan rasa syukur atas nikmat dan berkat yang diperoleh dalam satu tahun perjalanan hidup. Dalam ungkapan kebersamaan penuh persaudaraan (“nek mese ansaof mese = satu hati satu rasa), semua rumpun suku tiap ume mnasi (rumah adat) membersihkan patung religi atau benda devosi. Air hasil pembersihan patung-benda religi digunakan untuk membasuh wajah, dada, kaki dan tangan sebagai lambang pembersihan diri dan membawa kedamaian (manikin oe tene). Selain itu, setiap rumput ume mnasi ( rumah adat) mengumpulkan persembahan hasil usaha berupa buah-buahan yang dikenal dengan nama bua pa’ (mengumpulkan hasil/rejeki) dan pengumpulan buah-buahan ke rumah adat lainnya sebagai bentuk jalinan ikatan kekerabatan bua lo’et (mengumpulkan suguhan).

Setelah misa Kamis Putih dan Jumat Agung, umat secara berkelompok melakukan Kure dari satu ume Uis Neno ke Uem Usi Neno lainnya. Umat setempat maupun umat dari luar daerah bahkan manca negara berdatangan untuk melakukan doa bergilir dari ume mnasi yang satu ke ume mnasi yang lain. Doa-doa yang didaraskan pada umumnya adalah doa-doa klasik yang hingga sekarang masih didaraskan yakni doa Bapa Kami, doa Salam Maria, doa Kemuliaan Kepada Bapa dan doa Aku percaya.

Sebagai gantinya atau ucapan terima kasih, kepada setiap orang atau kelompok yang mengunjungi rumah-rumah adat untuk berdoa diberikan buah-buahan, tebu, mentimun, sirih-pinang bahkan segelas kopi. Hasil pemberian dari setiap penjaga atau rumpun ume mnasi itu sekaligus berkat melimpah kepada para pendoa yang menerimanya.

Setelah misa Sabtu Alleluya, semua umat malakukan bonet (tarian dan nyanyian tradisional) sebagai bentuk ungkapan syukur akan kebangkitan Yesus Kristus. Upacara Kure ditutup dengan ritual Sef Mau (pembersihan). Dalam ritual sef mau semua hiasan Ume Uis Neno maupun buah-buahan dan air serta minyak untuk memandikan atau membersihkan patung atau benda devosional dikumpulkan dan dibawa ke sungai untuk dihanyutkan. Hal ini menandakan bahwa noda-dosa sudah dilepas karena telah diselamatkan oleh kebangkitan Yesus Kristus dan mengenakan manusia baru.

Penulis : Unu Ruben Paineon
Sumber Informasi : Nina Purwayantini (Masyarakat Kampung Kote)
Andreas Tefa Sau, SVD, Kebudayaan; Sebuah Agenda dalam bingkai Pulau Timor dan Sekitarnya, (Jakarta: Gramedia, 2013) hlm. 107-126.

(Pernah dimuat di Majalah Warta Flobamora)

Share:
Lokasi: Yogyakarta, Yogyakarta City, Special Region of Yogyakarta, Indonesia
Posting Komentar