Sabtu, 18 Maret 2017

Filsafat dan Novel Benang Merah: Sebuah Benang Merah

Catatan untuk Novel Benang Merah Karya Unu Ruben Paineon
(Yosef Serano Korbaffo)
Pengajar pada Unimor dan Penikmat Sastra-Tinggal di Kefamenanu.

Karya sastra, pada tempat tertentu, identik dengan filsafat. Jika filsafat itu sulit dipenjarakan dalam ruang definitio, maka sastra pun merupakan sebuah ekspresi kebebasan. Jika filsafat mengandaikan adanya keterbukaan, maka sastra juga memberi jalan pada sebuah karya yang semau gue. Keduanya pun tidak bisa tidak, berangkat dari realitas, dari pengalaman manusia itu sendiri.

Karya sastra, pada tempat tertentu, identik dengan filsafat. Jika filsafat itu sulit dipenjarakan dalam ruang Barangkali, perbedaan keduanya hanya terdapat dalam cara pandang terhadap realitas. Sastra merupakan hasil kerja imaginatif yang diramu bersama idealisme dan mimpi-mimpi. Sedangkan filsafat adalah pemikiran yang non-imajinatif, tersistem dan konkrit. Filsafat mengenal ke-logis-an dalam cara pandang, sedangkan sastra terkadang cenderung ngawur.

Novel, yang baru muncul pada abad 17/18 M, merupakan satu jenis dari sekian banyak karya sastra itu. Novel adalah karya fiksi prosa yang ditulis secara naratif; dan seringkali berbentuk cerita. Novel umumnya bercerita tentang tokoh utama dan orang-orang di sekitarnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku. Dan karena itu, novel lebih kompleks dari cerpen, tetapi sedikit lebih simple dari roman.

Novel Benang Merah karya Unu Ruben Paineon memenuhi tantangan tersebut. Ia berkisah tentang Kolo, tokoh utama dan konflik-konflik yang dihadapinya dalam pikiran maupun dalam kehidupan nyata. Ia pun merupakan ungkapan realitas yang diramu secara imaginatif, bebas, semau gue, dan bahkan terkadang ngawur. Kekuatan daya imaginasi Ruben dalam menyusun kalimat, merangkainya dalam cerita, lalu memainkan alur kejadian dengan tetap mempertahankan tema, menarik untuk kita disimak. Tulisan ini merupakan hasil penyimakan saya dalam perspektif filsafat, sebagai upaya menemukan benang merah antara filsafat itu sendiri dengan Benang Merah-nya Ruben Paineon.

Alunan kata sederhana dan terkesan semau gue dalam novel Benang Merah, mengingatkan saya pada teori languange game-nya Ludwig Wittgenstein. Menurutnya, bahasa merupakan aktivitas permainan dengan beragam cara pengungkapannya. Dan kata-kata mendapat maknanya dari pelbagai macam cara aktifitas permainannya. Dengan kata lain, makna sebuah kalimat selalu bergantung pada cara dipakainya kalimat tersebut.

Ketergantungan kata dan atau kalimat pada cara, menunjukan bahwa memang terkadang bahasa itu tak berpola, sembrono. Terserah saja jika kalimat itu mau dimainkan seperti apa. Terkadang satu kata bisa juga merupakan satu kalimat. Terserah. Semau gue. Sebagai misal, beberapa kutipan tentang sebuah kalimat yang hanya terdiri dari satu kata: Ramai (p. 1). Terbelenggu. Merana. Kaku juga (p. 2). Nyata (p. 19). Konyol (p. 21). “Joko?” (p. 55). Juga kutipan tentang awal kalimat yang didahului kata penghubung: Dan memang jauh (p. 2). Dan tentang kenyataan... (p. 6). Yang merindu itu... (p.13). Sangat sempit (p. 56). Ataupun kutipan tentang kalimat yang berisi subjek atau predikat dan atau keterangan saja: Laki-laki juga (p. 12). Mengamati sambil menganalisa (p. 75). Kefamenanu (p. 13). Ruben, sebagaimana Wittgenstein seakan mengajak kita untuk tidak terpaku pada tata bahasa baku: subjek, predikat dan objek dalam menyusun kalimat cerita. Memang bahasa itu liar.

Ada pun beberapa penggalan teks yang melahirkan permainan kata-kata filsafat yang indah. Seperti, pertama: “Benar bahwa hati... mampu menembus ruang dan waktu. Tetapi itu hanya sekadar kalimat hiburan belaka... Gejolak hati hanya mampu ditenangkan dengan daging yang sama dan dari jarak yang begitu dekat. Jarak tetaplah sebuah ukuran (p. 2)”. Kedua: “Waktu bukan masalah jarum jam... Waktu juga bukan angka-angka. Jarum jam dan angka-angka gampang dikendalikan oleh manusia, sedangkan rotasi waktu yang sesungguhnya itu mutlak dan pasti, mengalir pada roda-rodanya. Rotasi waktu itu sendiri adalah jiwa (p. 37)”. Ketiga: “Kalimat rayuan itu dilematis, tetapi dipasarkan saja...cinta pada titik tertentu dimengerti saja sebagai pertandingan kosakata (p. 46)”. Keempat: “Saya sama sekali tidak yakin kalau mama akan mampu membiayai kuliah saya... Kalau tidak yakin, mengapa harus datang jauh-jauh ke sini?... Kalau harus menunggu hingga yakin, saya tidak akan pernah melangkah (p. 50)”. Kelima: “Manusia memiliki akal budi...bisa mempertimbangkan baik dan buruk, salah dan benar, sedangkan semut itu hanya mengandalkan insting...tidak bisa membedakan baik-buruk, salah-benar. Bagi semut, semuanya benar (p. 73)”. Dan keenam: “Ketika terjebak dan pilihan untuk keluar tidak memungkinkan, maka pilihan apapun selalu masuk akal (p. 208-209)”. Saya yakin, siapapun yang membaca novel ini, akan tertegun pada kalimat-kalimat filosofis di atas.

Alur cerita dalam Novel Benang Merah pun unik untuk dikaji. Ruben seakan memainkan alur maju-mundur dalam tiap bab. Tokoh Kolo yang ditempatkan Ruben dalam cerita, mengajak kita untuk, secara bergantian, memikirkan dua alam sekaligus: Yogya dan Kefamenanu; masa kini dan masa lalu; kenyataan dan kenangan. Ruben memberi ruang bagi kita untuk berimaginasi dua kali: pertama, Ruben membawa kita ber-imaginasi (dengan membaca) tentang keadaan faktual Kolo di Yogya. Kedua, Ruben menempatkan Kolo dalam cerita yang sedang ber-imaginasi (mengenang) tentang masa lalunya di Kefamenanu. Atau dengan kata lain, lewat membaca Benang Merah, Ruben meminta pikiran kita untuk berpikir tentang Kolo yang sedang berpikir tentang Kolo. Dalam idealisme Jerman, kesadaran bertingkat demikian merupakan buah pikiran Fichte, ketika ia menjelaskan tentang kesadaran pada dirinya sendiri (das absolute Ich). Fichte berkata: “Pikirkanlah tembok itu. Sekarang pikirkanlah dia yang sedang memikirkan tembok itu. Lalu pikirkanlah dia yang sedang memikirkan dia yang sedang memikirkan tembok itu”. Fichte dan barangkali Ruben seolah ingin mengatakan kepada kita untuk selalu sadar tentang kesadaran.

Novel ini pun bergelut tentang ingatan Kolo tentang pengalaman masa lalu. Kekuatan ingatan, pada titik tertentu mampu menghantar manusia pada penemuan akan kebenaran. Plato adalah filsuf Yunani yang pernah membahas tentang hal tersebut. Dalam teorinya tentang dualisme, Plato menjelaskan tentang dualisme manusia dan kosmos. Jika manusia merupakan komposisi jiwa dan badan, maka kosmos mengenal Dunia Ide dan Dunia Inderawi. Jiwa berasal dari Dunia Ide, sedangkan Dunia Inderawi merupakan asal dari badan. Dunia Ide itu kekal dan tetap, sedangkan Dunia Inderawi senantiasa berubah.

Dunia Ide tidak mengenal barang-barang benar sebagai misal, sebab yang ada hanyalah ide tentang kebenaran. Pada suatu waktu dan entah suatu sebab, jiwa terpenjara dalam badan: menjadi manusia yang utuh. Dan pada akhirnya, kemampuan manusia untuk mengenal barang-barang sebagai benar, dikarenakan ingatan jiwa tentang ide kebenaran tersebut. Dari situ Plato menarik kesimpulan bahwa proses pengenalan dan atau pencarian akan kebenaran, tidak lain adalah mengingat kembali apa yang sudah pernah dilihatnya dalam dunia ide. Menurutnya, satu-satunya jalan menemukan kebenaran adalah anamnesis. Kolo pun menghantar kita pada kenyataan bahwa ingatan, pada saatnya nanti mampu membangun kebenaran. Kebenaran akan ayahnya yang pengangguran, kebenaran tentang ayahnya yang seorang pencuri, dan kebenaran bahwa ayahnya ditembak mati oleh gerombolan perampok berseragam.

Akhirnya, novel Benang Merah (kesusastraan) dan filsafat itu identik. Mereka bebas seperti layang-layang yang menyatu bersama angin, memberi ketenangan jiwa lewat permainan kata-kata yang indah, namun serentak tetap menghantar manusia pada jalan kebenaran.

Salam sastra

Share:
Posting Komentar